Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length

 
Advanced search

607.386 Posts in 16.875 Topics- by 44.539 Members - Latest Member: adita rian pradana
Pages: 1 ... 6 7 8 9 10 11 12 [13] 14 15 16 17 18 19 20 ... 24  All   Go Down
Print
Share this topic on FacebookShare this topic on GoogleShare this topic on TwitterShare this topic on Yahoo
Author Topic: Bakuman~Takeshi Ohbata-Tsugumi Ohba~  (Read 88757 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Nanna
LX - Evangelis
*****

Reputation: 127
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 2.174



Awards
« Reply #120 on: May 19, 2013, 12:47:18 pm »

Tapi itu baru ngeliat dari volume 1 dan 2 aja sih, semoga di volume-volume berikutnya si kedua tokoh utama dibuat tambah menderita, wkwk, yang paling gak secara psikologis dibikin terpuruk dikit lah Shocked

wah wah.. kalo tokoh utama d buat menderita ato d buat terpuruk cocokan komik fantasi tuh biggrin tokoh utama punya kegelapan dlam dirinya, rasa sakit yg luar biasa dan jadi jahat, baru tambah menarik biggrin *OOT mode on


wah, ada yg merhatiin ampe segitunya Shocked
hmm, kalo masalah terjemahan saya ga merhatiin krn masih baca skimming (faktor teks yg banyak salah satunya, faktor lainnya karena ga sempat baca sluruhnya)
kalo tokoh sih blum ada yg suka, tp ada yg menarik perhatian, sapa tuh namanya, mangaka yg aneh yg kalo gambar malah mengeluarkan efek2 suara d komik

so far, cerita komik ini unik, menceritakan kerasnya kehidupan mangaka d sana, persaingan sangatlah ketat
untuk bisa membuat karya d realisasikan atau untuk membuat suatu karya bisa bertahan lama alias bervolume2 sangat bergantung pada hasil angket
bisa d bilang mereka bener2 berusaha keras agar karya mereka d terima pembaca(ampe begadang, tidur 4 jam)
bener2 kagum ama kerja keras mereka icon14
Logged
dian_z
LX - Member
***

Reputation: 15
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 296

I like genre manga which breaks its genre boundary


WWW Awards
« Reply #121 on: May 19, 2013, 01:37:01 pm »

wah wah.. kalo tokoh utama d buat menderita ato d buat terpuruk cocokan komik fantasi tuh biggrin tokoh utama punya kegelapan dlam dirinya, rasa sakit yg luar biasa dan jadi jahat, baru tambah menarik biggrin *OOT mode on
Wkwk, itu agak hiperbola aja sih sampai menderita dan terpuruk gitu
Tapi justru komik realistis lebih cocok buat menampilkan sisi psikologi yang realistis juga. So far sih aku bacanya melihat ini sebagai komik shounen yang style over substance aja, jadi gak expect pendalaman karakter secara psikologis seperti yang banyak digunakan di komik seinen/josei.

wah, ada yg merhatiin ampe segitunya Shocked
Banyak kok yang merhatiin sampai segitunya^^

kalo tokoh sih blum ada yg suka, tp ada yg menarik perhatian, sapa tuh namanya, mangaka yg aneh yg kalo gambar malah mengeluarkan efek2 suara d komik
Iya yang itu, kalau gak salah Niizuma namanya. Begitu karakter ini keluar, gaya gambar Obata dan karakterisasi Ohba terlihat kental sekali. Suka setiap karakter satu ini muncul, walau sepertinya karakternya ditujukan sebagai rival yang sedikit menyebalkan, haha.

so far, cerita komik ini unik, menceritakan kerasnya kehidupan mangaka d sana, persaingan sangatlah ketat
untuk bisa membuat karya d realisasikan atau untuk membuat suatu karya bisa bertahan lama alias bervolume2 sangat bergantung pada hasil angket
bisa d bilang mereka bener2 berusaha keras agar karya mereka d terima pembaca(ampe begadang, tidur 4 jam)
bener2 kagum ama kerja keras mereka icon14
Iya, aku juga agak surprise juga setelah baca Bakuman 1 ternyata bikin komik susahnyaaa. Nah, tapi di sini juga lah si komik ini bikin kedua tokoh utama tambah sempurna. Misal melihat komik Giga Tokyo Toybox, yang menceritakan kalau procrastination itu hal yang sangat sangat susah diatasi, dan begitu sulitnya menghadapi masalah dan mudah untuk memilih lari dari masalah, Bakuman ini memperlihatkan kedua tokoh utama dengan mudahnya memilih untuk begadang dan terlihat melakukannya begitu effortlessly.

Hehe, ini cuma gumaman pembaca yang lebih sering menikmati seinen/josei daripada shounen sih (yes, the comparison is uneven). Cuman alangkah bagusnya kalau shounen juga bisa memberikan gambaran yang realistis daripada memberikan cerita yang terlihat menantang di kulitnya sedangkan sebenarnya berisi kesempurnaan, which I think is rather uninspiring.

Tappi lagiii, ini baru 2 volume, masih banyak potensi yang bisa berkembang, hahahah. Yah semoga saja begitu ceritanya bertambah panjang, komen ini bisa menjadi semakin useless :)
Logged

asuna1991
LX - Member
***

Reputation: 9
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 527

mari kita berteman \(>_<)/


Awards
« Reply #122 on: May 19, 2013, 07:42:04 pm »

Quote
Hehe, ini cuma gumaman pembaca yang lebih sering menikmati seinen/josei daripada shounen sih (yes, the comparison is uneven). Cuman alangkah bagusnya kalau shounen juga bisa memberikan gambaran yang realistis daripada memberikan cerita yang terlihat menantang di kulitnya sedangkan sebenarnya berisi kesempurnaan, which I think is rather uninspiring.

@dian_z
waw, kamu kritis sekali icon14
yah, membaca salah satu judul manga memang nggak bisa lepas dari genre-nya. saat kita membaca shounen, pasti bobot ceritanya nggak seberat seinen yang memang untuk pembaca dewasa..
aku juga suka baca seinen (misalnya karya urasawa naoki), trus diselingin ma komik shounen (misalnya rave), ya kerasa banget timpangnya bobot cerita, tapi everything has its own unique, jadi it's ok icon14

yang bikin aku tertarik ma serial ini emang karena nama besar mangaka-nya, jadi aku akan menantikan kejutan apa yang diberikan duo mangaka ini iloveusign
walo sempat kaget juga sih, genre yang mereka angkat kali ini tentang kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang heboh seperti di death note, hehe biggrin

selain cerita, aku paling suka melototin chara, terutama chara2 yang unik dan berkarakter,
(paling suka tuh chara yang manusiawi tapi unik, ada kekurangan dan kelebihan,nggak mainstream,dll)
di death note semua chara-nya ngena banget, makanya aku kecewa saat ada chara yang bak dewi tak bercela, jadi keliatan bukan manusia, n malah annoying (maaf pendapat pribadi)

yah, mari kita nantikan volume dan kejutan selanjutnya dari duo mangaka jenius ini supir
Logged

to Live Gratitude is to Touch Heaven...
n1sh1k4ze
LX - Kidz
LX - Senior
*

Reputation: 34
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 1.043

鉢月


WWW Awards
« Reply #123 on: May 20, 2013, 12:08:32 pm »

Kebetulan kenal dengan editor yang ngedit Bakuman. IMHO, Bakuman itu levelnya setara dengan detektif Conan. Lebih banyak percakapan yang mengandung informasi tentang dunia komik Jepang. Khas Takeshi Ohbata yang suka gambar komik-komik rumit seperti Hikaru's Go dan Death Note. Overall, komik Bakuman terbitan m&c! ini patut mendapatkan nilai 8 dari 10. Mengingat banyaknya dialog dalam komik ini. XD
Logged



Lebih baik manga asli daripada download atau baca mangascans
REX
Imut dan lucu
LX - Kidz
LX - Frenzy
*

Reputation: 176
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 6.666


Why so serious, desu?


Awards
« Reply #124 on: May 20, 2013, 03:38:13 pm »

Eeh, dua karakter utamanya terlalu sempurna?
Yang mendasar aja dulu nih. Kalau dibikin simpel, salah satu alasan mereka nge-tim bikin komik 'kan, "What I can, you can't. What I can't, you can. But together, we can!Wink

Dan kalau ndak salah, di volume 1 setelah habis-habisan bikin komik semalaman...
Kata cowo A (si ilustrator): "Ceritanya sih bagus, gambarnya... nggak tahu deh."
Kata cowo B (yang punya ide cerita): "Gambarnya sih bagus, ceritanya... nggak tahu deh."

Secara nggak langsung, mereka meragukan kelebihan masing-masing (dan secara bersamaan, muji kelebihan rekannya) lhooo~
Logged
dian_z
LX - Member
***

Reputation: 15
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 296

I like genre manga which breaks its genre boundary


WWW Awards
« Reply #125 on: May 20, 2013, 07:30:41 pm »

Eeh, dua karakter utamanya terlalu sempurna?
Yang mendasar aja dulu nih. Kalau dibikin simpel, salah satu alasan mereka nge-tim bikin komik 'kan, "What I can, you can't. What I can't, you can. But together, we can!Wink

Dan kalau ndak salah, di volume 1 setelah habis-habisan bikin komik semalaman...
Kata cowo A (si ilustrator): "Ceritanya sih bagus, gambarnya... nggak tahu deh."
Kata cowo B (yang punya ide cerita): "Gambarnya sih bagus, ceritanya... nggak tahu deh."

Secara nggak langsung, mereka meragukan kelebihan masing-masing (dan secara bersamaan, muji kelebihan rekannya) lhooo~

Yep, requoting my own line di postku di atas, "Memang diceritakan mereka menemui kesulitan dan beberapa keamatiran di dunia pembuatan manga, tapi kesan yang terlihat adalah mereka berdua calon mangaka berbakat yang mudah sekali mengatasi masalah baik secara teknis maupun dari psikologisnya."

Gampangnya sih kalau dibandingkan dengan komik Giga Tokyo Toybox, yang di awal-awal tokoh utama ceweknya diceritakan menemui kesulitan mengerjakan tugasnya sampai ditunda berhari-hari dan memilih lari dari masalah. Padahal dia punya motivasi yang tinggi dari awal sebelum melamar pekerjaan, karena impiannya sejak kecil.
Sedangkan di Bakuman, mereke gagal, mereka tidak mengalami proses down yang terlihat berarti, dan langsung mengatasi masalah (psikologis)nya seperti tanpa susah payah. Hal ini mungkin bisa dijalani orang dewasa dengan banyak pengalaman hidup, tapi untuk seorang coming-of-age seperti mereka, ceritanya menurutku jadi rada uninspiring karena seperti oversimplifying things.

Tapi ya aku maklum aja karena ini komik shounen, cuma ngomong yang aku rasakan aja.

Kedua quote di atas kalau dari POVku kok malah mendukung kalau keduanya memang sempurna ya, wkwk. Story-san sempurna dalam cerita, Art-san sempurna dalam gambar. But whatever, that's not the point I want to talk about.
Logged

REX
Imut dan lucu
LX - Kidz
LX - Frenzy
*

Reputation: 176
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 6.666


Why so serious, desu?


Awards
« Reply #126 on: May 20, 2013, 09:12:15 pm »

Oh, ternyata sudut pandangnya udah beda :)

Kalau aku lihatnya... Walau mereka (di mata pembaca) mereka sangat berbakat, toh mereka juga bisa gagal --> pukulan telak bagi ke"sempurna"an mereka. This is my point.

Nah, kok cepet banget bangkit dari keterpurukan?

Hey, they're boys, they're young, they're ambitious, they're full of energy! They failed on their first try, so what? Gotta try again! Remember, they have a target to accomplish with very clear deadline! It's tough, but as long as they stick together and try harder, no obstacles couldn't be overcome!

In short... Just like you said. It's shonen all over again. Teamwork + Hard Work >>>>>> Challenges.

 Grin

Realistiskah? Masuk akalkah? Ndak. Tapi apakah sang mangaka pingin komik ini jadi serealistis mungkin, jadi semacem buku motivasi bagi remaja yang punya cita-cita jadi mangaka? Kayaknya lebih ampuh kalau dia bikin komik autobiografi tentang diri sendiri :/

Kedua quote di atas kalau dari POVku kok malah mendukung kalau keduanya memang sempurna ya, wkwk. Story-san sempurna dalam cerita, Art-san sempurna dalam gambar. But whatever, that's not the point I want to talk about.
Sebagai tim, mereka duet maut. Sebagai individual? Not quite ;)
Logged
dian_z
LX - Member
***

Reputation: 15
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 296

I like genre manga which breaks its genre boundary


WWW Awards
« Reply #127 on: May 21, 2013, 10:44:12 am »

Oh, ternyata sudut pandangnya udah beda :)

Kalau aku lihatnya... Walau mereka (di mata pembaca) mereka sangat berbakat, toh mereka juga bisa gagal --> pukulan telak bagi ke"sempurna"an mereka. This is my point.

Yep, kalau melihat dari point Rex-san memang mereka jelas gak sempurna kok.

Nah, kok cepet banget bangkit dari keterpurukan?

Hey, they're boys, they're young, they're ambitious, they're full of energy! They failed on their first try, so what? Gotta try again! Remember, they have a target to accomplish with very clear deadline! It's tough, but as long as they stick together and try harder, no obstacles couldn't be overcome!

In short... Just like you said. It's shonen all over again. Teamwork + Hard Work >>>>>> Challenges.

 Grin

Yep, just like I said Grin

Realistiskah? Masuk akalkah? Ndak. Tapi apakah sang mangaka pingin komik ini jadi serealistis mungkin, jadi semacem buku motivasi bagi remaja yang punya cita-cita jadi mangaka? Kayaknya lebih ampuh kalau dia bikin komik autobiografi tentang diri sendiri :/
Nggak perlu serealistis (pake) 'mungkin' sih.
Tapi aku percaya sebuah manga shounen bisa lebih inspiring dengan memberikan kerealistisan yang lebih dari sekedar menonjolkan semangat+hardwork+teamwork.
Masih banyak potensi dimana Bakuman bisa menempatkan kerealistisan yang so far tidak aku rasakan sama sekali di dua volume awal ini. Meski misal itu cuma di ending atau di pertengahan cerita (I'm talking about Hikaru's Go) atau bagaimana karakter di Fullmetal Alchemist tidak bisa dipisahkan dengan motive dan latar belakang cerita masing-masing, dan temenku ada yang ngerekomendasiin Cross Game yang membawakan cerita coming-of-age dengan sangat baik (aku sendiri belum baca sih).

Sebenarnya aku sendiri sedang mendiskusikan tentang komik-komik shounen yang mempunyai unsur-unsur realistis yang bisa memuaskan pembaca seinen/josei di forum lain. So I can believe a shounen can also be good enough to bring up realism at some points of its story, or hopefully essentially, tanpa harus menjadi buku motivasi^^

"The question is, is film merely entertainment, or is it more? -Michel Haneke
Meskipun ini quote film, aku percaya hal yang sama bisa berlaku juga untuk buku, more specifically here, komik shounen, or as long as it is a work of art, would be a waste kalau sebuah karya seni hanya untuk sekedar hiburan. I consider comics which gives me nothing more than flat entertainment (or just style with no substance) kinda waste my time.

Dari awal emang aku gak suka pembagian demography komik yang kesannya malah terlalu membatasi kalau suatu komik shounen nggak boleh gini/gitu atau sebaliknya komik seinen harus gini/gitu. Salute to Hikaru's Go yang berani keluar dari batasnya dengan memberikan ending yang benar-benar inspiring menurutku.
Logged

KazeKumo
LX - Babes


Reputation: 0
Offline Offline

Posts: 3


Awards
« Reply #128 on: May 22, 2013, 06:19:13 am »

Eeh, dua karakter utamanya terlalu sempurna?
Yang mendasar aja dulu nih. Kalau dibikin simpel, salah satu alasan mereka nge-tim bikin komik 'kan, "What I can, you can't. What I can't, you can. But together, we can!Wink

Dan kalau ndak salah, di volume 1 setelah habis-habisan bikin komik semalaman...
Kata cowo A (si ilustrator): "Ceritanya sih bagus, gambarnya... nggak tahu deh."
Kata cowo B (yang punya ide cerita): "Gambarnya sih bagus, ceritanya... nggak tahu deh."

Secara nggak langsung, mereka meragukan kelebihan masing-masing (dan secara bersamaan, muji kelebihan rekannya) lhooo~
yang gambar namanya mashiro moritaka biasa di panggil saiko Grin
yang nulis cerita dan buat name (gambar kasar dari sebuah manga) namanya takagi akito Grin

Post AutoMerge: May 22, 2013, 06:25:45 am
ada yang sadar ga sih?
di anime majalah yang menerbitkan manga namanya "Shounen Jack", di manga online "Shounen Jump", di komik masa "Akamaru Jump"?  Huh?
kalo di anime wajar, kalo pihak pembuat anime ga akan bawa nama penerbit "Shounen Jump" karna nanti di kira jadi sponsor atau apalah.  Cheesy
tapi kalo "Akamaru Jump"? apa ga aneh tuh?  no
« Last Edit: May 22, 2013, 06:25:45 am by KazeKumo » Logged
guguk
~agak mirip manusia...
LX - Evangelis
*****

Reputation: 261
Offline Offline

Posts: 3.935



Awards
« Reply #129 on: June 24, 2013, 11:57:35 am »

Nyimak percakapan di atas, sudut pandang pembaca beda-2 ya.. jadi seru kalo didiskusikan...^^
Kalo aku ngeliatnya : berjuang bikin manga dengan cita-2 menikah + saling suka tapi gak ketemuan ( kayak roman jaman dulu ) = romantis

Baru baca vol.3, jadi suka banget sama si Eiji Niizuma. Waktu ketemu pertama kali padahal si Saikou nganggap dia rival, tapi dengan polosnya si Eiji malah ngaku sebagai fans-nya Saikou & Shuujin.. ^^
Udah gitu pose & tampangnya sering aneh-2 :) , karakter yang menyenangkan... 
Logged

"And frame your mind to mirth and merriment,
Which bars a thousand harms and lengthens life."
Pages: 1 ... 6 7 8 9 10 11 12 [13] 14 15 16 17 18 19 20 ... 24  All   Go Up
Print
Jump to: