Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length

 
Advanced search

607.375 Posts in 16.874 Topics- by 44.451 Members - Latest Member: itilepin1980
Poll
Question:
Kenapa ga baca komik indo
males beli, abis2in duit aja, mana komiknya sama mahalnya sama komik luar
dikasih juga ga mau, jelek sih; ngerusak mata aja.
bingung yg mana yg bagus, kalo ada yg mau pinjemin sih boleh deh

Pages: 1 ... 39 40 41 42 43 44 45 [46] 47 48 49   Go Down
Print
Share this topic on FacebookShare this topic on GoogleShare this topic on TwitterShare this topic on Yahoo
Author Topic: Alasan Tidak Baca Komik Lokal?  (Read 130974 times)
0 Members and 2 Guests are viewing this topic.
Genie_Blackheart
Guest
« Reply #450 on: July 21, 2010, 01:03:58 am »

Kalo boleh dibilang, banyak.
Seperti kata postingan yang paliiing pertama, inking, outline, proporsi gambar, cerita, dataaaaaaarrrr banget.
Tapi, ini komik-komik zaman batu(a.k.a 2004-2007). Dan saya sering banget kebaca komik macam ini. Yang sekarang juga masih ada sie... (haah, lebih dalami pelajaran anatomi, dong.)

Tapi akhir-akhir ini, saya udah mulai berubah pikiran.
Kenapa?
Gara-gara liat doujin D******n karya XX(nama dirahasiakan). Wah, sesuatu yang membuka mata saya, ternyata, masih ada orang-orang yang benar-benar berbakat dalam berkarya.*Ah, tidak, doujinnya bikin mimisan...! Bishie!! >v<*
Dia dan kawan-kawannya saja yang saya acungi jempol. Mereka beneran senior! Saya belajar banyak. Walau ada senior" yang memakai gaya gambar komik Jepun, tapi karena gaya gambar itu dia mix 'n match antara pengarang satu sama pengarang lain, jadi saya tetep acungi jempol. Usahanya saja pasti berat banget.
Mencoba ori dalam membuat gambar itu susah lho. Apalagi bagi orang yang sudah ngefans sama suatu komik. pasti ada beberapa adegan dalam komik buatannya yang mirip dengan komik fave-nya itu.

Saya juga coba buat ori tapi ternyata susah. >< *duh!* Soalnya, banyak banget gaya gambar yang saya coba mix 'n match dalam karya saya. Sehingga terkadang gambarnya nggak konsisten. Berubah gaya melulu.
Kenapa saya mencoba mix 'n match? Karena mata para komiker itu kebanyakan terbiasa dengan gambar komik Jepun. Dan saya juga salah satu contohnya. Azn
Dari sana, saya mulai sadar, membuat ori itu beneran SUSAH. Dan semakin susah saat permintaan pasar lebih memilih gaya gambar ala Jepun daripada gaya gambar lain. Saat kita membuat OriArt, para pembaca malah kepingin JapArt. Apa nggak dilema tuh?
Walau ada saja pengarang yang menjalaninya dengan senang hati karena bisa mirip sedikit sama komik fav-nya.

Huumm, begitu aja sih. Maaf, kalau saya salah.(_ _). Habisnya, saya observasi dengan objek yang tak lain adalah saya sendiri. Sehingga kata-katanya rada subyektif.
« Last Edit: July 21, 2010, 02:16:28 pm by Genie_Blackheart » Logged
Alter
LX - Senior
****

Reputation: 4
Offline Offline

Posts: 930

Sarcasm best served with a smile and a cup of tea♪


Awards
« Reply #451 on: July 21, 2010, 10:42:08 am »

ngomong2 soal gambar ori, g agak penasaran...kenapa ya hal ini sering disebut2 kalo menyangkut komik lokal?

Gaya gambar manga (Jepang) itu bermacam2 loh, dari yang jaman baheula kayak Atom Boy, yang simpel kayak Doraemon, yang agak2 'oldies' bak topeng kaca, ciri gambar yang tegas komik shonen ala one piece, atau shoujo (contohnya banyak deh), bahkan yang semi-realis kayak Saiyuki. Intinya Satu, bisa dibilang pakem ciri gambar *Jepang* itu nggak mutlak satu gaya doang, dan Dua, mangaka Jepang sendiri nggak pusing harus ngegambar dengan *gaya Jepang* untuk ceritanya (bayangin kalo mangaka One Piece didaulat harus ngegambar dengan style Topeng Kaca supaya ciri *bener-bener komik Jepang*-nya tampak????)

Kalo komikus Indo merasa nyaman dengan style mangaka Jepang tertentu (mau gaya Candy2 kek, mau gaya Naruto kek), kenapa jadi masalah? g sih nggak bisa gambar, tapi g bakalan ketawa kalo misalnya g bikin komik sendiri terus diminta bikin dengan "style Indonesia* (style Indonesia itu kayak apa ya? kayak Panji Koming? Benny & Mice? si Buta dari Goa Hantu?). Ngegambar itu susah loh *orang yang waktu SD dulu gambar perspektifnya jeblok banget Grin, masa sih orang udah bertahun2 style gambarnya begitu, mendadak disuruh ngerombak total style nya? mendingan waktunya dipake buat improve.

menurut g sih nggak ada salahnya kalo gaya gambar komikus indo mirip ke mangaka Jepang (mo yang macem mana terserah deh), makanya kalo ada yang kasih nilai negatif dengan alasan "style-nya masih ngikut Jepang", g jadi bingung, emang salahnya dimana ya?
Logged
Genie_Blackheart
Guest
« Reply #452 on: July 21, 2010, 02:07:24 pm »

Makanya saya bilang bikin ori SUSAH kan? Tapi, saya nggak menekankan pada komikus Indonesia untuk nggak ngikut style orang lagi dan mulai cari ori sendiri. Saya hanya menjelaskan kalau yang namanya pembaca komik yang sekarang cuma terbiasa dengan gaya gambar 'manga'(oke, sekarang istilahnya ganti.)
Tentu nggak ada salahnya ngikut style orang, hanya saja, kita sebagai pembaca(umum) pasti bakal mikir gini, "Eh, ini gambarnya kok mirip sama gambar dikomik ini ya?" atau, "Lho, tapi kok yang ini gambarnya kurang bagus?" Nah, dari sanalah saya sangat menghargai orang-orang yang mix 'n match style gambar kayak orang-orang yang saya akui itu. Mix 'n match itu tentu sebagai variasi supaya para pembaca nggak bakal mikir seperti yang sudah saya sebutkan diatas.

Walau ada senior" yang memakai gaya gambar komik Jepun, tapi karena gaya gambar itu dia mix 'n match antara pengarang satu sama pengarang lain, jadi saya tetep acungi jempol. Usahanya saja pasti berat banget.
Logged
Alter
LX - Senior
****

Reputation: 4
Offline Offline

Posts: 930

Sarcasm best served with a smile and a cup of tea♪


Awards
« Reply #453 on: July 21, 2010, 03:59:37 pm »

CMIIW, tapi dari beberapa post di thread ini (nggak cuma genie saja), g dapet kesan kalo "style gambar yang mirip dengan komikus jepang" = negatif.

Misalnya saja ya, di post genie diatas:
Walau ada senior yang memakai gaya gambar komik Jepun, tapi karena gaya gambar itu dia mix 'n match antara pengarang satu sama pengarang lain, jadi saya tetep acungi jempol. Usahanya saja pasti berat banget.

dengan kata walau diatas, sepertinya Genie menganggap punya style mirip manga itu sesuatu yang negatif, inilah yang dari dulu bikin g bingung. Kenapa ya kalau kita ngomongin komikus indonesia itu seakan2 ada obsesi untuk style gambar-yang-nggak-mirip-komik-Jepang? Komikus korea (cth: Hwang Mi Ree) atau komikus china (cth: Selena Lin) yang mirip dengan style shojo-nya Jepang aja nggak dituntut harus pakai style gambar Korea atau China gitu loh.

Menurut g sih, meskipun mirip, mustahil agak mustahil kalo ada komikus yang bisa mengcopy pas 100% style komikus favoritnya - lagian umumnya sih gaya gambar komikus akan berubah dikit2 seiring waktu, karena itu menurut g sih komikus indonesia nggak usah pusing kalo dibilang style gambarnya mirip Jepang, karena g sendiri nggak melihat negatifnya dimana gitu.

Yang balik lagi ke pertanyaan: emang negatifnya dimana ya? penasaran aja sih.....
Logged
Genie_Blackheart
Guest
« Reply #454 on: July 21, 2010, 05:09:19 pm »

Wah, ada yang salah persepsi lagi sama komentar saya. Duuh, ternyata saya emang nggak pintar menjelaskan hal ribet macam ini...

Saya bilang begitu sama sekali nggak ada maksud negatif tentang pengarang lokal yang pake gaya manga Jepang kok. Duh, ribet nih... Gimana ya, cara jelasinnya?
Sepertinya saya salah dalam pengartian khususnya ya. Maksud saya bilang 'walau dia makai style komik Jepun' itu merujuk pada satu style saja. Misalnya style "Topeng Kaca". Sehingga kekurangannya beneran nampak. Tapi, saat ia(si pengarang Indo) mix 'n match antara style satu dengan style lain, kekurangan itu tertutupi dengan kelebihan dari style lain hingga kita nggak lagi merasa seperti apa yang sudah saya tulis diatas.

Ha ha, maaf, kayaknya saya salah menjelaskan. Seharusnya saya bilang mirip dengan karya salah satu pengarang fav ya.
Logged
Alter
LX - Senior
****

Reputation: 4
Offline Offline

Posts: 930

Sarcasm best served with a smile and a cup of tea♪


Awards
« Reply #455 on: July 22, 2010, 10:42:13 am »

errr, saya juga nggak maksud nyerang genie atau gimana loh (saya juga bukan komikus atau ada kenalan yang jadi komikus jadi ini bukan sikap defensif yah laughing)

Sebenernya maksud g sih gini: g memperhatikan kalo komikus Indonesia suka dituntut untuk ngeluarin komik yang "indonesia bangetz" (tidak hanya style, tapi mungkin juga cerita). Nah dari pengamatan g sendiri, komikus luar sendiri nggak ada tuntutan semacam itu gitu loh - style sudah dibahas di atas, cerita......misalnya manga Emma atau manhwa Princess (jelas2 bukan setting negaranya sendiri :D) atau contoh yang lebih luas seperti ES21 ngulas olahraga Amrik atau One Piece yang ngebahas soal bajak laut (jelas2 tidak "Jepang sekali" juga).

Intinya sih, g merasa kalau masalah ke'original'an ini justru kayak mengekang para komikus indonesia untuk bebas berkarya gitu. Yah, intinya sih ingin mendukung para komikus (dan bakal komikus) indo untuk nggak terlalu pusing2 sama yang namanya 'original indonesia bangetzz' - fokus saja ke bikin komik yang bagus gitu.....tapi kalo melihat pendapat umum soal nggak original = agak negatif ini, g kok malah jadi khawatir kalo anjuran itu malah salah sasaran (apakah emang target pasar komikus lokal untuk mengangkat yang 'original indonesia' ini atau gimana gitu.....)
Logged
tim_campy
LP big Fan ^^
LX - Senior
****

Reputation: 10
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 1.455


Awards
« Reply #456 on: July 22, 2010, 05:25:15 pm »

ngomong2 soal gambar ori, g agak penasaran...kenapa ya hal ini sering disebut2 kalo menyangkut komik lokal?


menurut g sih nggak ada salahnya kalo gaya gambar komikus indo mirip ke mangaka Jepang (mo yang macem mana terserah deh), makanya kalo ada yang kasih nilai negatif dengan alasan "style-nya masih ngikut Jepang", g jadi bingung, emang salahnya dimana ya?
setuju, emang betul kata Alter.
gaya gambar komikus lokal emang rada2 sensitif, apalagi kalau memang si komikus tadi udah terlanjur demen ama style pengarang favoritnya hingga style nya jadi CLAMP ke-dua (salah satu contoh yang paling banyak). sebenernya nggak ada salahnya juga sih, cuman mungkin sebagai pembaca atau fans mangaka yang gaya gambarnya ditiru itu merasa sebal aja ngeliatnya. jujur, soalnya saya juga sempet merasa sebal pas liat 1 komik lokal yang cover-nya full ngejiplak gambar illustrasi salah satu mangaka (sampe2 gaya rambut, pose, warna dll, dsb). well, itu pendapat saya saja sih. ada pendapat lain mungkin? (kesebalan terhadap sesuatu itu memang buta) Cheesy
nggak pingin juga menuntut para komikus lokal itu untuk bener2 Indonesia. karena memang kalo kita maksain style Indonesia, komik2 lokal bakal bisa kurang bersaing ama komik2 internasional lainnya. bukan dalam artian style Indonesia jelek lho, cuman harus disesuaikan saja.
dulu pas jaman gencar2nya keluar komik dengan style CLAMP ke-dua itu, saya sempet pesimis sama komikus lokal n dunia perkomikan Indonesia. untungnya, akhir2 ini mulai bermunculan komik2 Indonesia yang cukup bisa meyakinkan saya kalo komik Indonesia nggak kalah ama manga, manhwa, &  manhua. saya mulai menaruh harapan lagi pada perkomikan Indonesia. semoga ke depannya bisa lebih baik lagi. doa
« Last Edit: July 22, 2010, 05:27:18 pm by tim_campy » Logged

Sorrhein Sieg
LX - Member
***

Reputation: 16
Offline Offline

Posts: 504

DRRRRRR!!!!


Awards
« Reply #457 on: July 23, 2010, 12:11:16 am »

Pendapat saya sih, kalo seseorang punya jiwa komikus dan tingkat kreatifitasnya tinggi, dia ga akan kelihatan ngejiplak meskipun dia memiliki gaya gambar yang sama. Kalo kelihatan..yah...kemungkinan besar namanya bakal jatuh akibat "gagal mendapat respek" dari pasar yang dia tuju..

Saya sendiri udah pasti "MEREMEHKAN" karya2 yang terlihat JELAS menjiplak karya lain padahal dirinya menyandang gelar komikus. Sebaiknya jangan pernah ngaku2 deh kalo jelas2 ga bisa kreatif.. bwekk

Seiring waktu tingkat ke orisinilan suatu karya juga bakal muncul dengan sendirinya sih.. Lagipula komik/manga/manhwa/manhua itu memang bukan berasal dari Indonesia, wajarlah kalau awalnya mereka memang niru. Dulu Jepang juga meniru Amerika, tapi sekarang malah Amerika yang mulai ngikut2 gaya Jepang. Gayanya sendiri juga merupakan gebrakan Osamu Tezuka yang sampai kini dijuluki "bapaknya manga" di Jepang. mikir

Terus saya pernah dikasih tau waktu ada seminar perkomikan di kampus, kalau yang kayak gini juga bergantung selera pasar. Bahkan kadang dipaksa mengikutinya. Penerbit biasanya ragu untuk mengeluarkan suatu style baru yang berbeda dari selera pasar, padahal bisa jadi style tersebut malah booming akhirnya. Malah dulu pengarang komik Indonesia disuruh "menJepangkan" namanya supaya lebih laku (dan ini benar-benar terbukti katanya si pembicara- saya ga sebut nama).

Kalau melihat perkembangannya sekarang komik Indo sudah cukup bagus, beberapa ada yang diterbitkan di Jepang malah. Jadi style bukan masalah, semua tergantung sudut pandang pembaca... Kalau orang yang belum pernah baca Clamp terus ngeliat komik Indo bergaya Clamp (dan ga dikasi tau kalau itu ngejiplak atau apa kek) pasti komentarnya beda dari orang yang udah tau Clamp duluan.. Azn
Logged

Live everyday as if it were the last day - UVERworld
Genie_Blackheart
Guest
« Reply #458 on: July 23, 2010, 12:34:15 am »

@Alter
Nggak kok. Saya nggak merasa diserang, kok. Malah kayaknya saya salah karena nggak menjelaskan dengan baik.

@tim
Pikiran saya hampir sama dengan anda.(makanya terus-terusan ngomongin gaya gambar.)

@sorrhein
Eh? Beneran tuh? Kalo gitu, emang tergantung yang punya kuasa ya...?*mulai memikirkan realita*

Iya, bener. Sekarang sih, pikiran-pikiran yang dulu ada dikepala saya kalau ngomongin komik Indonesia itu dibawah standar, udah mulai ludes semua. Banyak, banyaaaaaakkk banget orang-orang berbakat dan kayaknya saya juga harus mulai melirik Indonesia kalau ke TB.
Logged
Alter
LX - Senior
****

Reputation: 4
Offline Offline

Posts: 930

Sarcasm best served with a smile and a cup of tea♪


Awards
« Reply #459 on: July 23, 2010, 11:38:57 am »

sebenernya nggak ada salahnya juga sih, cuman mungkin sebagai pembaca atau fans mangaka yang gaya gambarnya ditiru itu merasa sebal aja ngeliatnya. jujur, soalnya saya juga sempet merasa sebal pas liat 1 komik lokal yang cover-nya full ngejiplak gambar illustrasi salah satu mangaka (sampe2 gaya rambut, pose, warna dll, dsb).


mikir g jarang baca komik lokal sih, tapi kalo nggak salah dulu pernah liat short comic di majalah game dulu yang gambar adegan+ekspresi+panelnya nyontek persis sama dengan komik lain (jadi bacanya kok deja vu gitu laughing). Menurut g sih itu bukan ngomik tapi lebih mirip daur ulang copy-paste doang (dan karena panelnya nyomot sana-sini, adegannya jelas2 nggak nyambung). Tapi ini sih cuma short comic aja ya, g gak kebayang deh kalo ada yang bisa gambar metode copy-paste sampe 1 buku (180 halaman!) tekun? niat?

kalo ngomong gambar, pasti nggak luput ngomong soal kualitas. Persepsi apa ya, yang dipunyai komikus indonesia sebagai syarat minimal pede bikin komik? Jujur aja, g suka gambar bagus/bishonencakep/art yang rumit berukir2 apa sih namanya itu.., tapi daripada musatin upaya "copy-paste" untuk satu atau beberapa panel terus kualitas gambar sisanya (yang enggak ngopi) jelek (misalnya ekspresinya kaku, atau proporsi badannya kaku, atau perspektif backgroundnya hancur2an) - ya mendingan diset aja jadi simpel semua aja biar nggak jomplang gitu, terus ditingkatin dikit-dikit.

N.B. Simpel bukan berarti alasan untuk jelek ngegambar loh ya. Contoh style simpel ya bisa dilihat Akazukin Cha-Cha, simpel tapi toh tetap bagus.
Logged
Pages: 1 ... 39 40 41 42 43 44 45 [46] 47 48 49   Go Up
Print
Jump to: