Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length

 
Advanced search

606.227 Posts in 16.736 Topics- by 41.703 Members - Latest Member: Zikomuv
Pages: 1 ... 9 10 11 12 13 14 15 [16] 17 18 19 20 21 22 23 24  All   Go Down
Print
Share this topic on FacebookShare this topic on GoogleShare this topic on TwitterShare this topic on Yahoo
Author Topic: [DISKUSI] Komik Dewasa/17+ di Indonesia  (Read 178688 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Dekar_K
LX - Junior
**

Reputation: 2
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 141

Baca Baca & Baca


Awards
« on: September 15, 2013, 05:19:10 pm »

anooo mas camo permisi saya mau tanya pendapat aja nih mungkin aga telat  

belakangan kan Elex Sama LC mulai berani terbitin Komik Genre Ecchi / 17+ kaya HOTD sama Kimi no iru machi apa tidak takut diprotes mikir ? apalagi diindonesia kan siapapun bebas membeli komik berarti ada kemungkinan juga anak dibawah 17 tahun beli komik sepertri ini

Note : saya bukannya munafik   ,, saya seneng komik seperti ini terbit  banana tapi sebagai calon orang tua saya juga was was jika terus seperti ini. setidaknya untuk kedepan mungkin untuk pembelian komik sepeti ini bisa dibatasi agar tidak ada anak dibawah umur membelinya

arigato
« Last Edit: April 26, 2015, 09:34:59 pm by REX » Logged
 
Lee
LX - Member
***

Reputation: 77
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 736


Leadership is action, not position


WWW Awards
« Reply #151 on: August 15, 2014, 08:09:16 am »

Agak kurang nyaman bales di hape, jadi sedikit singkat aja hehehe...

Kami (orang "dewasa" jaman dulu) ga pernah nyamain anak sekarang dengan masa2 kami.
Sebagai pembanding, di jaman saya itu paling parah anak SMA udah hamil di luar nikah... itu dengan pendidikan seks yg amat rendah. Jaman sekarang anak SD aja udah cium2an. Gimana kami mau samain coba????
Itukah yang dimaksud dewasa, not for me.

Di jaman saya, secara mayoritas, anak SMA udah baca adult novel karangan SB. Bagi mereka, mereka sudah dewasa dan pantas membaca novel yg isinya mendeskripsikan sepasang manusia ciuman, pelukan dan berakhir di ranjang. Tapi pas saya coba baca, saya merasa belum cukup pantas membaca itu semua. Itu namanua teman2 saya dewasa dan saya terlalu kekanakan?

Akan jauh lebih bijaksana kalau definisi dewasa itu sendiri disamakan. Apakah kalau seseorang udah kenalan sama hentai, bf atau bahkah sudah pernah melakukan semua itu secara live pantas dianggap dewasa? Apakah kalau seseorang sudah punya segudang pengetahuan seks pantas disebut dewasa? Adakah batasan umurnya?
Nah.. kalau definisinya disamakan ngomongnya akan lebih enak.

Kalo soal sensor di LC yg minim, lihat segmentasi pasarnya donk. LC kan memang ditujukan untuk lapisan pembaca dewasa yang dinilai sudah cukup pantas buat ngeliat darah atau sperma dimana-mana.
Dan soal pembelian online dan agen buku, udah terjaga di harga. Jadi tokbuk yg menyasar segmentasi anak sekolahan pasti ga bakal jual komik LC secara mereka ngeri anak sekolahan ga mau beli. Kalau beli secara online juga sama.. mau pakai paypal atau rekening kek... selama kuat bayar harga (dengan uang bulanan)
Soal penipuan pake akun ortu... sebego-begonya orang dewasa, kalo dia liat tagihan paypal atau rek tiba2 membengkak padahal dia ga belanja, dia akan melakukan dua hal. Pertama banget ganti password kedua dia akan lapor ke instansi terkait (kalo si ortu ga pernah ngasih password dll ke anak)

Gitu aja dulu.. masih blom terbiasa bales panjang2 pake hape. Mungkin saya belum dewasa?
Logged

I may fall down but thatís not failure
Because I can just get up and run again
Because everything will make me stronger
stephanie istalri
I'm ...
LX - Member
***

Reputation: 9
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 562

Salah satu orang yang anti mainstream


Awards
« Reply #152 on: August 15, 2014, 08:42:56 am »

Lha, gak semua LC kaya gt kan lee?
Masalah rekening membengkak, kalo ortunya yang ngasih, dan membatasi limitnya? Bisa aja kan? (Klo ngelewatin limit, bakal dipotong uang jajan)

Masalah sperma or darah berceceran, no problem tuh. Kita udh ngerti itu apa. Anak SD dah cium2an? D lingkunganku gak gitu kok ...

Mmg org yg udh kenalan sama kaya gt blm ttentu dapat disebut dewasa, kalau mereka belum menggunakan pengetahuannya secara bijak.

Dewasa itu bisa kapanpun, tergantung lingkungan. Well, oleh karena itu, gak perlu LC dikasih rating apalagi nunjukkin KTP. Ada anak yg lebih dewasa daripada org yg lbh tua diatasnya. Dewasa bisa kapan saja.

Blm terbiasa bales pake hape, itu karena jarang bales pake hape :v klo aku sih udh biasa bales di sini pake hape :D
Logged

If you win, you need not to explain ...

If you lose you should not be there to explain!
sano
tukang baca
LX - Kidz
LX - Evangelis
*

Reputation: 28
Offline Offline

Posts: 2.823


bleh


WWW Awards
« Reply #153 on: August 15, 2014, 01:15:19 pm »

hai, hai.. saya udah lama pengen posting di sini tapi males Tongue tapi kayaknya ada yg pengen banget saya komentarin sekarang nih Grin

setuju sama lee, harusnya definisi 'dewasa' disamakan dulu ya.. dewasa memang bukan faktor angka umur, tapi pola pikir. menurut saya, dewasa itu saat udah bisa mengambil keputusan dengan tenang & bijak, termasuk soal ikut aturan
stephanie, sejujurnya, buat saya, 'kengototan' kamu di thread ini malah menunjukkan ketidakdewasaan lho :smile: tapi saya akui, dari postingan2 kamu yg pernah saya liat, kamu punya wawasan yg luas dan mungkin pemikiran kamu memang lebih dewasa dari umur kamu sekarang.

setelah jadi orangtua, sekarang saya memang mulai waswas sama tontonan & bacaan anak saya nantinya (anak masih bayi). tapi klo buat saya pribadi, memang yg paling penting ya filter dari orangtua, kita yg harus pilih2 apa yg pantes utk ditonton sama anak. karna ternyata hasil diskusi sama suami, ternyata ada lho pengaruh tontonan & bacaan kami waktu kecil di kehidupan sehari2, itu ga disadarin sebelumnya, dan tentu aja proses sampe kepengaruh juga lama (karna terus2an nonton/baca).
contoh kecil : suka nyiksa binatang2 kecil, kayaknya gara2 biasa lihat kartun seperti tom&jerry, looney tunes, ada rasa penasaran gara2 nonton trus mikir klo binatang2 itu ga bakal kenapa-napa.
seringnya ga disadarin, klo tontonan/bacaan kita itu bisa pengaruh ke pola pikir kita, makanya ya kita harus pinter2 pilih mau dipengaruhin yg kayak gimana

utk anak, mungkin memang ga bisa main larang2 gitu aja, yg ada malah tambah penasaran. di situ, menurut saya, perlunya pengawasan, orangtua harus tau apa yg ditonton/baca anaknya, klo bisa trus diajak diskusi, biar ga kebablasan klo ada yg penasaran
Logged

Love yourself
Love your life
Love this world, where you live
Don't ruin what you love
stephanie istalri
I'm ...
LX - Member
***

Reputation: 9
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 562

Salah satu orang yang anti mainstream


Awards
« Reply #154 on: August 15, 2014, 02:56:12 pm »

Ok, aku salah karena ngotot. Tp, aku skrg berubah pikiran. Dari setuju jadi gak setuju. Karena setelah aku baca beberapa LC, menurutku gak perlu dikasih rating tinggi2. Itu aja. Gak perlu berlebihan sampe harga buku dinaikin, ratingnya 21+, dan lain2.

Sekarang mulai cape ngetik pake hape di thread ini :|
« Last Edit: August 15, 2014, 02:57:24 pm by stephanie istalri » Logged

If you win, you need not to explain ...

If you lose you should not be there to explain!
gusfina
LX - Senior
****

Reputation: 92
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 788

Ubugoe ♪


WWW Awards
« Reply #155 on: August 15, 2014, 03:08:19 pm »

@Lee~ pendapat yang menarik, Lee^^ kurang lebih memang seperti demikian adanya. Definisi dewasa itu memang belum tentu sama bagi masing-masing orang. Mungkin sepatutnya dari kesadaran diri masing-masing orang saja Smiley As for the paypal bussines, saya juga sependapat.  Oke, gak usah ba bi bu be, intinya demikian laughing

@sano~ pendapat yang bijak^^)/ Setuju dengan kebanyakan yang disampaikan. Dan lagi poin di bawah itu tepat sekali! Grin  Menurutku, kalau orang tua hanya bisa main larang-larang, anak malah akan tambah penasaran karena pada dasarnya, anak-anak belum bisa menerima kata-kata negatif. ^^

@steph~ Waah^^;  kalau menyangkut harga buku, saya kembali ke poin yang saya jelaskan sebelumnya tentang peningkatan kualitas. Kalau naik tanpa diimbangi kualitas, saya rasa akan banyak yang protes (include me laughing) tapi kalau soal rating 21+... Oh well nevermind
Logged

yushie
BYJ
LX - Kidz
LX - Senior
*

Reputation: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 1.378

BYJ - life can show no mercy, but Lord has mercy


WWW Awards
« Reply #156 on: August 15, 2014, 10:17:21 pm »

@lee: saya suka jawabanmu, dan saya pun jg pernah mengalami hal yang sama, waktu masih sekolah dulu komik yg terbit boleh dibilang masih normal ( maksudnya gk ada yg aneh2 ) kalau pun ada paling itu buat humor2 saja...dan komik waktu dulu langka sekarang bertebaran dimana2...mungkin ada member yg msh sekolah atau msh dibawah 17 th..dengarlah kita dulu waktu baca komik juga diibatasi sama ortu...krn kita pernah dibatasi kita ngerti bagaimana polah anak yg dibatasi...tp ketahuilah kalau kalian sdh dewasa kalian pasti memikirkan soal ini jg

Maaf kalau saya OOT atau jawaban saya melenceng :)
Logged

VisitMyMemberBlog-->CupCupBimbi
VisitMyFriendster-->www.profile.friendster.com/chottomattekudasai

FollowMeOnTwitter-->http://twitter.com/yushiechiang
setelah6tahunMenjadiMemberEMOYushieMasihMenjadiLXKidz Grin
guguk
~agak mirip manusia...
LX - Evangelis
*****

Reputation: 255
Offline Offline

Posts: 3.910



Awards
« Reply #157 on: August 16, 2014, 10:13:25 am »

*mencoba merangkum diskusi* (^^)

1. Dewasa itu tidak tergantung umur, tapi tergantung cara berpikir, berbicara, dan bertindak ( serta kemampuan + kemauan untuk bertanggung jawab atas hasil pemikiran, perkataan, dan tindakannya ).

2. Ada anak-anak usia sekitar 13 tahunan ( akhir SD / awal SMP ) yang merasa sudah dewasa karena sudah 'tahu' hal-hal yang berbau dewasa, atau juga karena kurikulum sekolah yang semakin lama semakin ngawur berat.

3. Padahal (imho^^) ilmu pengetahuan ( hal-2 yang sifatnya eksak / pasti ) ≠ kesadaran moral seseorang.

4. Lalu, bagaimana dengan nasib anak-anak kita?
( Maaf, sepertinya kata "kita" di sini salah yah~ )

5. Solusinya, seperti yang sudah ditawarkan / didiskusikan oleh teman-teman di atas & di halaman-2 sebelumnya :
    - pengawasan di toko buku
    - perhatian penerbit ( dengan sensor )
    - perhatian orang tua ( digarisbawahi karena orang tua-lah yang pertama dan terutama dalam mengawasi anak-anak ^^ )
        Dan karena orang tua-lah sosok dewasa pertama yang dilihat oleh anak.

6. Semua ini bukan karena ingin membatasi, tapi karena kita semua peduli
Jangan sampai anak-anak menerima hal-hal yang belum mampu dicerna ( bukan sekedar 'tahu' / 'diketahui' ) dan kemudian...
terkapar tak berdaya..,
terpuruk..,
atau tumbang saat teman-temannya tumbuh dewasa secara wajar~

7. Walau bagi si anak sendiri pengawasan bukanlah sesuatu yang nyaman tapi yakinlah :) orang tua melakukannya demi cinta

sumber foto : I Love Puppies Daily ( diperankan oleh model, bukan foto Guguk yang asli )
Logged

"And frame your mind to mirth and merriment,
Which bars a thousand harms and lengthens life."
stephanie istalri
I'm ...
LX - Member
***

Reputation: 9
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 562

Salah satu orang yang anti mainstream


Awards
« Reply #158 on: August 16, 2014, 01:43:44 pm »

Jadi, usia seseorang dewasa itu berbeda2. Adakah yg sdh 18+ yg belum dewasa? Ada. So, dewasa tidak bergantung umur. Mepertanggungjawabkan segala perbuatan yg telah ia lakukan. Ya, itu ciri2 anak yang dewasa!

Dan aku setuju soal "jangan memberikan hal2 yg blm mampu dicerna anak" (yah, aku nangkep intinya gt) yah, jadi kalo mereka dah dapat mencerna gpp diberikan, asal mereka sudah dapat mempertanggungjawabkan dampaknya. Dampak buruk n dampak baiknya.

Oh, masalah pengawasan. Kalau orang tua terlalu protektif, si anak gak akan nyaman. Mmg bener ortu melakukannya karena cinta, tp gak usah protektif bgt deh, ngeganggu pergaulan yang ortu gak terlalu ngerti dan kalo ngomongin masalah komik, ortu juga belum tentu tau kalo sebenernya kita sudah dpt mencerna jalan cerita dan kita sudah tau mana yg gak boleh dilakukan.

Beda loh yah, sok dewasa n benar2 dewasa. Yg sok dewasa itu, org2 yg hanya berpura2 dewasa. Contoh: ada seorang anak, dia sok dewasa, ia membeli komik H, tapi tidak mengerti apa isinya dan tidak tahu mana yg fiktif dan mana yg real. Mereka bakal terjerumus. Tentu saja! Kalo anak yg benar2 dewasa, mereka membeli komik H , tapi mereka tidak akan terjerumus. Kenapa? Ya, karena mereka sudah dapat mencerna jalan ceritanya dan sudah dapat mengerti, mana yg fiktif, mana yg real. Dan dari kelakuan kedua anak itu, akan terlihat banyak perbedaan. Anak yg sok dewasa, padahal tidak dewasa, pasti tidak mandiri, tidak bertanggung jawab, tidak dapat menjaga apa yg keluar dari mulutnya. Sementara itu, anak yg benar2 dewasa pasti akan memikirkan setiap tindakannya, kata2 yg keluar dri mukutnya, dan lebih bertanggung jawab atas semua tindakannya.

Dan anak yang sok dewasa itu bisa jadi adalah anak yang sudah cukup umur dan anak yang benar2 dewasa itu adalah anak yg msh SMP ataupun SMA.

Jadi gak perlu kasih rating 21+ apalagi harga buku LC dinaikan, karena banyak anak yg "kurang umur" tapi sudah dapat mencerna dan bertanggung jawab atas apa yg dibacanya dan dilakukannya.

Sorry buat typonya, ngetik pas udh low batt
Logged

If you win, you need not to explain ...

If you lose you should not be there to explain!
fraulein
LX - Senior
****

Reputation: 109
Offline Offline

Posts: 1.197


Awards
« Reply #159 on: August 16, 2014, 08:27:56 pm »

setelah membaca-baca cukup panjang dan lama dan memperhatikan pendapat teman2 dan pada akhirnya sy setuju sama rangkuman kakak guguk~ apalagi gambar2 super kiyutnya..

imho, kita mst lbh proaktif krn kita nggak bisa mengatur hal-hal yg terlalu jauh di luar jangkauan kita. yg bisa kita lakukan,terutama fungsi pengawasan~ kayak DPR aja~ kita harus lakukan.
mengenai konten, tentunya kita bisa melayangkan protes melalui saluran-saluran yg kita tahu. salah satunya forum ini.. Grin

sy rasa orang tua juga perlu membekali diri dengan kekinian yg ada di dunia anak2 sekarang. dan menurut sy, klo soal komik, anak2 lxo Grin suatu saat akan jadi ortu yg keren. soalnya klo mengenai komik dan sebangsanya kan lumayan jago dan apdet, salah satunya karena forum ini.  Cheesy
« Last Edit: August 16, 2014, 08:37:40 pm by fraulein » Logged

~tat twam asi~
Lee
LX - Member
***

Reputation: 77
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 736


Leadership is action, not position


WWW Awards
« Reply #160 on: August 18, 2014, 07:54:20 am »

Akhirnya.. kembali ngetik di PC heartbeat

OK.. mungkin post-an saya ga terlalu up-to-date karena beberapa hari ini terkapar dan ga terlalu bisa ngikutin perkembangan yang luar biasa di sini. Tapi saya mau mencoba "menjawab" sendiri pertanyaan saya soal "dewasa". Tapi sebelumnya, saya mau coba menanggapi hal-hal yang ringan dulu yah Smiley

Soal pengawasan orang tua, di halaman sebelumnya (kalau ada yang mau rajin menelusuri) saya sudah pernah post bahwa orang tua ga bisa terlalu ketat mengawasi anaknya. Pertama karena memang scope pengawasannya terbatas (hanya di rumah) dan kedua semakin dilarang maka si anak akan semakin melawan.. terutama karena anak akan melakukan komparasi dengan perlakuan orang tua dari temannya. Kenapa teman-teman saya boleh begini sedangkan saya engga? Dan yang terutama, anak belajar dengan melihat bukan dengan mendengar.. jadi larangan ga akan terlalu banyak pengaruh selama orang dewasa di sekitarnya (tante, oom, kakek, nenek atau bahkan kedua orang tuanya) justru melakukan pelarangan tersebut.
Dan yang ketiga (yang mungkin jadi alasan mayoritas orang tua jaman sekarang), mereka kesulitan mengawasi anak karena keterbatasan waktu yang mereka punya. Sekarang ini, hampir kedua orang tua bekerja (wanita akan berperan sebagai pekerja, isti dan Ibu sekaligus). Saat workday, mereka sibuk bekerja sehingga tanggung jawab pengawasan anak terpaksa diserahkan ke pihak ketiga (entah itu keluarga lain seperti oom/tante/kakek/nenek si anak atau pihak luar seperti ART/baby sitter). Dan ketika weekend, anak-anak yang mulai "dewasa" atau merasa "dewasa" akan merasa privasinya terganggu ketika orang tua ngajak ngobrol atau sekedar ingin tahu apa sich yang udah dilakukan anak-anak mereka selama seminggu ini.. anak-anak ini akan merasa: "Udah dech, ga usah ikut campur urusan gw secara tiap hari juga kalian ga tau apa-apa soal gw kan?"

And seriously, saya tertarik sama statement kamu loh, stephanie.
Mmg bener ortu melakukannya karena cinta, tp gak usah protektif bgt deh, ngeganggu pergaulan yang ortu gak terlalu ngerti dan kalo ngomongin masalah komik, ortu juga belum tentu tau kalo sebenernya kita sudah dpt mencerna jalan cerita dan kita sudah tau mana yg gak boleh dilakukan.
Kok tertarik, karena ini statement yang biasanya keluar dari anak-anak generasi saya yang gap antara orang tua dan anaknya terlalu jauh. Kita disini ngomongin mayoritas kan, steph? Secara mayoritas, gap antara anak dan orang tua di generasi saya itu cukup jauh di dua hal, pertama pendidikan dan kedua usia. Sedangkan anak-anak generasi steph ga punya gap yang cukup jauh di kedua hal itu dengan orang tua kalian.
Di generasi saya, orang tua kami mayoritas pendidikannya rendah, terutama para Ibu. Buat orang dulu, perempuan yang penting bisa baca-tulis sama ngitung (buat bantu suaminya dagang) udah cukup... selebihnya masak, ngejahit, ngurus anak-suami-rumah. Pendidikan para Ayah juga ga tinggi-tinggi amat, bahkan amat sangat jarang Ayah-ayah generasi kami yang sarjana. Pergaulan mereka juga beda jauh dech sama pergaulan kami, para anak. Ngomongin komik sama ortu, jangan ngimpi dech.. wong nanya pelajaran aja kadang mereka ga ngerti. Paling banter (alm) Papa saya ngerti tjersil sebangsa Bu Kek Kiam Su dan sejenisnya (heloooooo.. gw ga baca begituan kali). Ngomongin tentang seks, apalagi... bisa kena maki abis-abisan karena bagi mereka topik yang satu itu masih dianggap tabu. Pendidikan seks di sekolah, kalau saat saya sekolah sich masih minim yah.
Tapi orang tua jaman sekarang (orang tuanya steph dan teman-teman seumuran steph) itu mayoritas punya pendidikan yang tinggi dan age gap dengan anak juga ga terlalu jauh (mungkin sekitar 25-30 tahun). Ditambah lagi, mereka ga akan sungkan menjawab hal-hal berbau seks karena buat mereka topik ini bukan hal yang tabu lagi. Kalau menurut pendapat saya pribadi, orang tua stephanie (atau ortu lain yang mungkin hampir segenerasi sama beliau) cukup mengerti dengan pergaulan anak-anaknya yang jauh lebih modern (anak TK aja udah ngerti make tablet) dan lebih bergaya (plus bergengsi). Dan masih menurut saya, para orang tua sudah tahu kalau anak generasi sekarang sudah cukup dapat mencerna jalan cerita komik H atau gore... tapi, saya pribadi menilai kalau komik dewasa masih belum pantas dibaca untuk anak usia SMP (apalagi SD).
Jangan merasa ga setuju dulu yah.. saya akan utarakan alasannya.

Nah sekarang saya mau bahas yang lebih berat sekaligus mencoba mengartikan apa itu dewasa. Betul, dewasa itu ga bisa dibatasi melalui usia, karena saya sendiri pernah mendapati orang yang usianya lebih dewasa dari saya tapi pola pikirnya masih belum dewasa. Dan saya cukup setuju sama pendapat k2 guguk bahwa dewasa itu ketika seseorang mampu bertindak dengan benar dan mempertanggungjawabkan tindakannya, (saya tambahkan) termasuk didalamnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Kenapa harus mampu mengendalikan diri, karena seseorang yang belum "dewasa" pun ada yang sudah bisa bertindak benar dan bertanggung jawab TAPI belum sanggup untuk mengendalikan dirinya. Contohnya, seperti yang saya post sebelumnya, anak SD cium-ciuman (bahkan ortu di kompleks saya pada stress karena anak-anaknya yang baru kelas 1 SD udah pacar-pacaran, ngejar-ngejar lawan jenis -- yang ini memang belum termasuk dewasa). Di lingkungan stephanie mungkin ga ada anak SD yang ciuman, tapi kembali, kita bicara soal mayoritas, kan? Dari rumah saya sampe kantor, ada tiga madrasah setingkat SD-SMP, dua SDN, banyak SMP dan SMA.. dan saya sering melihat anak SD (mungkin sekitar kelas 5-6 SD) sudah berani ciuman bibir di tempat yang sepi. Anak SMP atau SMA, ga usah ditanya lagi d.. mereka sudah berani melakukan yang lebih jauh dari sekedar ciuman. Bahkan anak SD jaman sekarang ga sungkan-sungkan melihat penuh minat ke belahan dada perempuan dewasa atau ke pangkal paha perempuan dewasa.
Mereka sudah tahu benar dan salah loh, mereka juga sudah mampu bertanggung jawab, tapi bagi saya... MEREKA BELUM DEWASA

Next... di post sebelumnya, saya juga bilang kalau saya merasa belum pantas untuk membaca adult novel saat masih duduk di bangku SMA kan? Kenapa, karena saya belum dewasa? Saya sudah dewasa, berdasarkan pendapat stephanie, karena saya sudah sangat mampu mencerna jalan cerita novel tersebut, saya sangat tahu dampak dari cerita novel tersebut dan saya sangat tahu apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan (berdasarkan isi novel tersebut), dan yang utama... saya tahu kalau isi novel itu FIKTIF. Terus? Saya khawatir kalau saya belum sanggup mengendalikan diri saya, saya khawatir saya belum sanggup mengekang rasa ingin tahu saya. Di post sebelumnya, sempat saya singgung kalau di generasi saya itu anak SMA sudah hamil di luar nikah. Mungkin salah satunya karena mereka belum punya pengendalian diri. Kok gitu, jangan ngarang-ngarang dech.

Ps: Mulai dari sini mungkin apa yang saya tuliskan akan sedikit "berlebihan". Jadi mohon dimaafkan kalau ada beberapa teman-teman LXO-ers yang merasa kurang nyaman

Well.. begini, saya baru merasa punya cukup pengendalian diri itu saat duduk di semester ketiga kuliah. Setelah membaca adult novel saya penasaran luar biasa, apa bener ciuman doank bisa bikin seorang cewe akan ngerasa dialiri sensasi aneh di seluruh tubuhnya? Apa bener cuma sentuhan ga disengaja di paha bisa mbikin seorang perempuan sampai begitu pengen ngelempar dirinya ke pelukan cowo? Dan apa bener-apa bener lainya. Saya sudah cukup punya pengendalian diri untuk tidak coba mempraktekan hal-hal yang saya baca itu dengan teman pria saya. Tapi coba dibayangkan kalau saya membacanya saat belum punya cukup pengendalian diri, bukan ga mungkin saya akan nyoba-nyoba hal itu sama teman pria saya. Awalnya mungkin sekedar ciuman singkat... oh ternyata rasanya begini toh ciuman itu, ini toh sensasi aneh yang dimaksud (atau mungkin kok ga berasa apa-apa yah). Dan mungkin akan berlanjut ke adegan yang tidak sepantasnya saya lakukan (hubungan pra nikah). Nah, pertanyaannya... saya kan sudah bisa mencerna isi cerita, tahu apa yang boleh/tidak boleh saya lakukan dan saya bisa bertanggung jawab.. apa berarti saya sudah cukup dewasa untuk membaca adult novel yang kemudian berakhir dengan praktek langsung (karena saya belum punya cukup pengendalian diri)? Mungkin steph (dan teman-teman LXO-ers lain) akan teriak, itu mah loe belom dewasa kalee! Kalo loe udah tau apa yang boleh dan ga boleh dilakuin loe ga bakal praktek langsung.

OK then.. seinget saya dulu, saya pernah baca statement salah satu member "di bawah umur" yang bilang kalau dia punya perasaan seeer aneh kalo baca komik dewasa, tapi setelah saya trace back ga bisa ketemu. Apa bukan di thread ini yah mikir
Tapi ijinkan saya tetep pake statement itu yah.. plus ini
anak SD sekarang, mungkin sudah tahu apa yang biasa dipikirkanmu ketika melihat wanita yang seksi dan cantik devil
Let's see.. menurut kalian apa yang akan terjadi kalau hal itu berlanjut (perasaan "seeer" aneh itu dan pikiran ngeres anak SD)? Kalau menurut saya pribadi, pilihannya ada dua. Pertama (yang paling parah), didorong sama rasa ingin tahu dan perasaan aneh itu, akan terjadi praktek langsung walaupun kamu tahu kalau hal itu tidak boleh dilakukan (hal ini dikarenakan pengendalian diri yang kurang). Ini yang dimaksud k2 guguk dengan keterpurukan bagi kedua belah pihak (pria dan wanita)... (dan menurut saya) yang pastinya lebih dirugikan adalah pihak perempuan (karena jadi "bernoda") sedangkan pihak pria jadi ga bermoral.
Terus pilihan keduanya apa? Akan terjadi praktek langsung onani/masturbasi (saya yakin dengan pendidikan seks yang sering steph katakan, pasti steph udah ga asing lagi sama istilah ini) di usia dini. Dan keduanya (praktek langsung dan onani/masturbasi) akan berujung pada kondisi nagih (pernah dibahas sama Aquilamarine di halaman sebelumnya) yang pastinya akan merusak kondisi psikis seseorang.

Ga semua komik dewasa/LC tentang seks kalee. Betul, selain tentang sperma (seks), ada juga komik dewasa yang isinya tentang darah (kekerasan), atau penuh dengan intrik yang lebih kompleks ketimbang komik yang segmentasinya ditujukan untuk anak atau remaja. Cerita-cerita yang ditampilkan di komik dewasa/LC (yang segmentasinya sebenarnya ditujukan untuk pembaca yang cukup "dewasa" -- seperti definisi saya di atas) lebih berat dan kompleks.
Ada yang pernah baca/denger berita tentang anak SMA menyiramkan air keras di bis dan pas diwawancarain si pelaku sama sekali ga ada guilty feeling? Menurut saya, itu salah satu efek dari membaca komik dewasa.
Atau mungkin ada yang pernah liat gaya tawuran anak sekolah jaman sekarang? Sebagai pembanding, di jaman saya.. "senjata" yang dipake tawuran baru "sebatas" penggaris besi, balok kayu sama batu. Tapi di jaman sekarang... golok sama samurai sudah "bicara" dan ketika mereka nebasin golok/samurai ke lawan itu sama sekali ga ada perasaan ga tega atau guilty feeling.. mungkin yang ada di otak mereka saat itu yah : "kill or to be killed"
Itu gara-gara komik? Mungkin saja kok (disamping film yang mereka konsumsi), karena ga jarang komik dewasa yang menampilkan adegan kekerasan atau perang antar kelompok.

Tapi kan, anak-anak generasi sekarang sudah terbiasa dengan yang namanya sperma dan darah. Anak-anak sekarang udah pada ngerti kalee.
Tapi apakah dengan mengerti dan terbiasa atas suatu hal maka seseorang dapat mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan hal tersebut? Apakah dengan mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan maka seseorang tidak akan pernah "berjalan di tempat yang gelap"?
Kalau menurut saya, jawabannya: TIDAK!
Jadi, pencegahan tetap perlu dilakukan Smiley

Terus.. setelah nulis panjang-lebar gitu, inti tulisan loe apa?
Menurut saya, dari sisi penerbit (karena thread ini dibuat atas dasar kegelisahan ortu akan terbitnya komik dewasa), pemberian rating 21+ itu perlu dilakukan untuk komik LC atau komik lain yang dikategorikan sebagai bacaan orang dewasa. Karena (masih menurut saya), mayoritas anak generasi sekarang masih belum cukup pantas (dan "dewasa") untuk membaca komik tersebut karena pengendalian dirinya masih kurang. (Sekali lagi, mayoritas yah steph. Mungkin pengendalian diri kamu sudah sangat baik tapi secara mayoritas, saya rasa masih banyak anak-anak generasi sekarang yang pengendalian dirinya kurang)
Tapi, pemberian rating 21+ belum tentu membuat pembeli komik LC/komik dewasa itu adalah orang-orang yang sesuai rating. Untuk itulah perlu effort lain. Selain awareness dari kasir (mungkin dengan meminta si pembeli menunjukan KTP/SIM), pihak tokbuk dan lainnya, penerbit bisa menambahkan satu unsur "penghalang" lainnya yaitu harga. Dengan pemberian harga yang cukup tinggi, seperti usul dari Jack, yang tentunya diiringi dengan perbedaan kualitas dengan komik regular, diharapkan pembeli komik dewasa/LC benar-benar sesuai segmentasi awalnya. Ga cuma komik elex doang.. idealnya, semua penerbit (Elex, m&c!, 3L, dll) melakukan hal yang sama.

Tambahan satu hal, ada yang kelewatan dibahas soalnya dan bingung mo nyelipin dimana, hehe (padahal udah pake kesimpulan segala >_<)
peranan Rating21+ dan menunjukan Ktp, disini dipakai, melihat ratingnya untuk pembaca dewasa pasti anak" ada perasaan malu dan takut untuk membelinya.  mikir
Hehehe... malu dan takut yah, hal ini cuma berlaku kalau seseorang memang sadar dan merasa kalau dia belum pantas membaca hal-hal seperti itu. Tapi kalau seseorang merasa pantas, saya rasa anak SD pun ga akan merasa malu/takut untuk membeli komik H. Mungkin karena beda generasi jadi beda budaya malu, Jack biggrin

OK.. saya rasa saya udah terlalu banyak bercuap-cuap. Itu aja pendapat saya, terima kasih buat yang sudah mau membaca sampai akhir. Dan kalau ada statement saya yang menyinggung atau mempermalukan pembaca, saya minta maaf.
Logged

I may fall down but thatís not failure
Because I can just get up and run again
Because everything will make me stronger
Pages: 1 ... 9 10 11 12 13 14 15 [16] 17 18 19 20 21 22 23 24  All   Go Up
Print
Jump to: