Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length

 
Advanced search

606.180 Posts in 16.730 Topics- by 41.672 Members - Latest Member: axixaaboweifa
Pages: 1 ... 7 8 9 10 11 12 13 [14] 15 16 17 18 19 20 21 ... 24  All   Go Down
Print
Share this topic on FacebookShare this topic on GoogleShare this topic on TwitterShare this topic on Yahoo
Author Topic: [DISKUSI] Komik Dewasa/17+ di Indonesia  (Read 178520 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Dekar_K
LX - Junior
**

Reputation: 2
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 141

Baca Baca & Baca


Awards
« on: September 15, 2013, 05:19:10 pm »

anooo mas camo permisi saya mau tanya pendapat aja nih mungkin aga telat  

belakangan kan Elex Sama LC mulai berani terbitin Komik Genre Ecchi / 17+ kaya HOTD sama Kimi no iru machi apa tidak takut diprotes mikir ? apalagi diindonesia kan siapapun bebas membeli komik berarti ada kemungkinan juga anak dibawah 17 tahun beli komik sepertri ini

Note : saya bukannya munafik   ,, saya seneng komik seperti ini terbit  banana tapi sebagai calon orang tua saya juga was was jika terus seperti ini. setidaknya untuk kedepan mungkin untuk pembelian komik sepeti ini bisa dibatasi agar tidak ada anak dibawah umur membelinya

arigato
« Last Edit: April 26, 2015, 09:34:59 pm by REX » Logged
 
Aquilamarine
are you talking to me?
LX - Senior
****

Reputation: 17
Offline Offline

Posts: 792

聖杯の騎士


Awards
« Reply #131 on: June 17, 2014, 12:04:29 am »

oo..kl anak cewe, poin pd adegan dewasanya (cium, dsb), kan bnyk diumbar di spidey. hehe. ladysman

Anak saya mungkin belum terlalu mengerti, tapi dia ingat apa yang saya katakan.

mslh ingatan kembali, ya, mikir ini akan menarik sekali...ke depan..   inlove
resiko msg2, sih..hehe... smg sj gpp..dunno  Wink *peace* iloveusign

sepakat..semua pihak hrs mengawasi..
tp apkh sdh masuk agenda concern penerbit belum, ya..
di respon saja belum disini..wkwk...*plirik*


 

Logged
stephanie istalri
I'm ...
LX - Member
***

Reputation: 9
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 562

Salah satu orang yang anti mainstream


Awards
« Reply #132 on: June 17, 2014, 06:27:07 am »

Adegan dewasa ... iya setuju banget :)
Kalo cewe bisa meniru adegan dewasanya ketimbang adegan terjun,  dan adegan action lainnya. Kalo cowo, biasanya mereka nirunya adegan yg actionnya.

Kasusnya hampir sama kaya aku, ya? Bedanya, aku dibiarin nonton. Tidak terlalu diawasi kalo mslh nonton di PC. Mmg rentan meniru adegan dewasanya kok *kabuuuuuuuuuur*
Logged

If you win, you need not to explain ...

If you lose you should not be there to explain!
camolatte
Centerspread inside the comical world
EMK
LX - Holic
****

Reputation: 440
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 18.720


I can be anyone, anywhere.. and I'm watching you..


WWW Awards
« Reply #133 on: June 17, 2014, 09:16:53 am »

Jadi perhatian koq seputar hal ini bagi penerbit. Kalau boleh cerita mengapa judul-judul tertentu bisa kelolosan masuk ke Elex, bukan ke LC, itu biasanya karena di volume-volume awal judul tersebut masih dalam standar yg bisa ditoleransi.

Biasanya dari Jepang mengirimkan sampel copy asli atau ada usulan judul baru sebagai rekomendasi, 'kan yang dikirim seabrek-abrek aneka judul tapi hanya volume awal saja. Dari volume awal, mulai masuk screening oleh teman-teman editor, mana yang layak terbit atau tidak. Termasuk dalam hal ini tentunya pengecekan dan penandaan halaman-halaman sesuai dengan level berbahaya-nya menurut toleransi value masing2 editor. Apabila di volume awalnya tidak banyak yang berbahaya ATAU levelnya masih bisa ditolerir, maka masih dapat dipertimbangkan terbit. Tapi jika dianggap sudah over, akan dilanjutkan prosesnya di LC untuk screening lanjutan.

Jadi bisa terjadi ketika proses screening ini tembus, komik tersebut kontennya masih bisa ditolerir, bahkan mungkin konten volume terbarunya di Jepang pun masih ditolerir. Namun proses penerbitan komik resmi itu sangat panjang dan ini baru awalnya. Sehingga sampai ketika akhirnya sudah ada dokumen hitam di atas putih di Indonesia, dimana itu bisa beberapa tahun kemudian, komik yang bersangkutan sudah bertambah banyak volume dan perkembangan ceritanya sudah jauh melenceng dari kerangka awal komiknya (mungkin menyesuaikan dengan demand pembaca remaja di sana yang memiliki toleransi nilai jauh berbeda). Contohnya screening yang dilakukan sekarang untuk paling cepat pun terbitnya tahun depan atau lebih.

Kalau mau mengurangi kemungkinan hal ini terjadi, berhubung tidak bisa memprediksi masa depan karena hal ini harus diproses beberapa tahun sebelumnya, bisa saja hanya menerbitkan komik-komik dari komikus yang memang sudah karyanya sudah pernah kita terbitkan dan terbukti bersih. Walau ini juga tidak menjamin karena bisa saja komikus bereksperimen dan mengganti genre / gaya ketika memulai seri baru. Bisa juga hanya menerbitkan judul yang sudah tamat di Jepang, tapi berarti ketinggalan buzz dan resiko tidak diminati lebih tinggi karena ketika tamat baru masuk proses awal, berarti ketika terbit, judul tersebut sudah 'basi' minimal 1-2 tahun.

Kira-kira demikian insight dariku seputar proses screening judul...


Nah kalau bicara value, setiap pembaca valuenya berbeda... misalnya barusan ada kritik di thread sebelah yang komplain kalau konten Nakayoshi disensor, padahal konten yang disensor itu dianggap memang belum cocok untuk pembaca Nakayoshi yang relatif masih muda. Ini hanya contoh, tapi banyak sekali komplen yg kita terima di sosial media bahwa sensor dari penerbit terlalu ketat, terlalu banyak, diminta dikurangi walau sebenarnya IMHO sensornya masih layak karena menimbang usia target pembaca komik tersebut di Indonesia. Tapi sayangnya anak-anak pembaca Indonesia di usia tersebut ingin disamakan seperti di Jepang. Di sisi lain, seperti di thread ini, ada beberapa suara yang mengutarakan sebaliknya juga dari pihak orang tua.

Sekarang yang menjadi masalah menurutku pribadi sih adanya gap antara value orang tua dan value anak / remaja di Indonesia. Generasi muda merasa mereka pantas dan layak, sudah bisa menerima konten demikian dan lebih tepatnya menuntut tidak dihalangi...
« Last Edit: June 17, 2014, 09:18:07 am by camolatte » Logged

stephanie istalri
I'm ...
LX - Member
***

Reputation: 9
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 562

Salah satu orang yang anti mainstream


Awards
« Reply #134 on: June 17, 2014, 10:59:01 am »

alau bicara value, setiap pembaca valuenya berbeda... misalnya barusan ada kritik di thread sebelah yang komplain kalau konten Nakayoshi disensor, padahal konten yang disensor itu dianggap memang belum cocok untuk pembaca Nakayoshi yang relatif masih muda. Ini hanya contoh, tapi banyak sekali komplen yg kita terima di sosial media bahwa sensor dari penerbit terlalu ketat, terlalu banyak, diminta dikurangi walau sebenarnya IMHO sensornya masih layak karena menimbang usia target pembaca komik tersebut di Indonesia. Tapi sayangnya anak-anak pembaca Indonesia di usia tersebut ingin disamakan seperti di Jepang. Di sisi lain, seperti di thread ini, ada beberapa suara yang mengutarakan sebaliknya juga dari pihak orang tua.

Sekarang yang menjadi masalah menurutku pribadi sih adanya gap antara value orang tua dan value anak / remaja di Indonesia. Generasi muda merasa mereka pantas dan layak, sudah bisa menerima konten demikian dan lebih tepatnya menuntut tidak dihalangi...
nah, anak2 jaman sekarang itu *maaf* suka sok jago, merasa diri mereka bisa menerima konten yang sebenernya buat dewasa dan bukan untuk anak2 seusia mereka. Itu justru yang membahayaan mereka. Keinginan mereka yg ini tidak boleh diikuti, aku justru setuju dengan penggunaan sensor pada majalah komik Nakayoshi. Soalnya kalo diliat, rata2 pembeli Nakayoshi adalah anak2 SD sampe SMP. Gak mau dihalangi? Mereka pikir mereka bisa bebas baca gituan??? No, no, no timpuk jangan sampe konten kaya gitu dibiarin tanpa sensor! Kalo kita bebasin mereka melihat konten itu, artinya kita menjerumuskan mereka! Gak boleeeeeeeeh!

Merasa pantas dan layak, ya? Gak mikir apa mereka!? Mereka masih remaja! Layak apanya? Mereka itu harus tau diri dong! Pengen disamakan seperti di Jepang? Oke, ini boleh! Asal mereka juga sama seperti anak2 di Jepang! Sekolah dari pagi sampe sore! Mau!?
Sensor terlalu ketat? Komen macem apa itu? Mnrt mereka, sensor yg g ketat itu gmn? No sensor!? Mereka pikir yg baca komik itu cuma org dewasa yg komen aja? Nggak!!! Ada banyak anak2 yg g komen, tp baca komik itu! Mikir dikit napa sih?

Tau gak teman2, jaman sekarang anak2 itu sebagian besar udh tercemari dengan yg hentai2 dan teman2nya. Mereka sebagian besar juga udh g takut lg sama ortu. Jd, ortu g bisa 100% mantau mereka. Dan terkadang, hubungan ortu-anak jaman sekarang itu kurang baik!

Sekarang kembali ke penerbitnya juga. Mereka mo menjerumuskan demi keuntungan yg lebih Ato ttp memakai sensor yg seharusnya!?

Aku tau org jaman sekarang lebih mentingin uang daripada generasi mendatang. Uang seperti sudah mengendalikan kita. Jadi, mungkin (catat:mungkin!!!) Penerbit, hanya demi uang, mereka gak mikirin ruginya. Kalo g mikirin ruginya, mungkin demi pendapatan yg lbh banyak, mereka akan menghapus kata SENSOR dari buku terbitannya.

(click to show/hide)
Logged

If you win, you need not to explain ...

If you lose you should not be there to explain!
Aquilamarine
are you talking to me?
LX - Senior
****

Reputation: 17
Offline Offline

Posts: 792

聖杯の騎士


Awards
« Reply #135 on: June 17, 2014, 05:09:54 pm »

Akhirnya....serbuuu......hahaha    j/k

Bisa juga hanya menerbitkan judul yang sudah tamat di Jepang, tapi berarti ketinggalan buzz dan resiko tidak diminati lebih tinggi karena ketika tamat baru masuk proses awal, berarti ketika terbit, judul tersebut sudah 'basi' minimal 1-2 tahun.

Nah itu ada salah satu solusinya....masalahnya skrg dimana?  Cheesy

Tanya : mmg tidak bisa dilakukan riset dari volume2 yg sdg berjalan di manga2 magz jepang? Bukannya mereka selalu lebih dulu ada...

Quote

Tapi sayangnya anak-anak pembaca Indonesia di usia tersebut ingin disamakan seperti di Jepang. Di sisi lain, seperti di thread ini, ada beberapa suara yang mengutarakan sebaliknya juga dari pihak orang tua.

Sekarang yang menjadi masalah menurutku pribadi sih adanya gap antara value orang tua dan value anak / remaja di Indonesia. Generasi muda merasa mereka pantas dan layak, sudah bisa menerima konten demikian dan lebih tepatnya menuntut tidak dihalangi...

  Ini jujur bikin tepok jidat..

Anak dibawah umur blm bisa mengambil keputusan yg matang. Bahkan hukum (aplg di luar) saja punya pembedaan, yg bisa memindahkan tgjwb ke org dewasa atas kesalahan anak2. Jadi bgmn mgkn aspirasi dari anak dibawah umur tentang hal2 demikian bisa masuk kantong... biggrin argg

Kalo 10 taun lg mas camo punya anak belasan tahun...anak masuk diskotik, ber2 gelap2an, dan minum beer sampai pagi, ok biar sj, krn di jaman itu valuenya sudah beda..dan dr pada ngambeg, dunno kan begitu kesamaannya biggrin
Orang dewasa menjadi galau karena tuntutan anak2...jadi yg dewasa itu siapa  laughing

Org dewasa jg membuat batasan2 bukan krn kejam dan ingin merusak kesenangan, tp justru krn org dewasa peduli dan tau apa akibatnya...yg ga peduli sih jalanin aja. Biar rusak sekalian. Apa ingin spt itu?

Pedoman, kenapa tdk pegang saja...(jgn bosen) definisi pornografi dari KBBI dan RUU nya..(walo pro-kontra tp msh ok lah). Cara lain bisa memperkerjakan lebih bnyk editor wanita di bagian screening/sensor.. Karena umumnya wanita relatif lebih paham dan peka (keumuman saja) masalah seperti ini.

Dg kecanggihan teknologi skrg sensornya sudah lumayan halus, ngga pake spidol..rasanya kalau bukan puritan rajin ngeliat manga asli/mangascan ga akan protes.

Omong2 masalah kerjasama dengan toko buku masalah penempatan dan pengawasan sepertinya blm dijawab...Smiley apa kendalanya?




« Last Edit: June 17, 2014, 05:21:17 pm by Aquilamarine » Logged
stephanie istalri
I'm ...
LX - Member
***

Reputation: 9
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 562

Salah satu orang yang anti mainstream


Awards
« Reply #136 on: June 17, 2014, 05:41:09 pm »

Ayo, ayo! Anak muda yg mo ancur sini sama aku diancurin aja sekalian, kemarilah! Mo nonton anime hentai? Komik hentai? Atau novel yg hentai? Ato mo nonton adegan yg kekerasannya di luar kewajaran??? Sok, aku ladenin devil

Daripada km ngancurin diri sendiri tp ga berasil2 obatnya manjur buat bikin kamu ancur *cih* tongue :p
Logged

If you win, you need not to explain ...

If you lose you should not be there to explain!
camolatte
Centerspread inside the comical world
EMK
LX - Holic
****

Reputation: 440
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 18.720


I can be anyone, anywhere.. and I'm watching you..


WWW Awards
« Reply #137 on: June 18, 2014, 08:34:08 am »

Tanya : mmg tidak bisa dilakukan riset dari volume2 yg sdg berjalan di manga2 magz jepang? Bukannya mereka selalu lebih dulu ada...
Kan sudah dijelaskan bahwa ketika diproses, di Jepang pun belum banyak volumenya... karena waktu proses cukup panjang dari mulai memilih sampai akhirnya deal.

Misalnya: komik A ketika diproses baru 2 volume, kemudian prosesnya 2-3 tahun dan komik tersebut terbitnya 3 volume setiap tahun, sampai ketika deal hitam di atas putih, komik tersebut sudah masuk volume 8 dimana mulai volume 7, komik tersebut menjadi ekstrim menyerempet luar biasa dan semakin parah.

Di saat itu sudah terlambat karena semua sudah tercantum hitam di atas putih, jika tidak diterbitkan dampaknya bukan hanya penalti tapi juga merusak hubungan yg berdampak untuk semua judul dari penerbit tersebut.

Sedangkan memilih judul basi, itu bukan solusi karena tidak ada gunanya menerbitkan komik yang kurang diminati mayoritas pembaca, karena tidak akan memenuhi quota syarat terjual minimal yang dituntut penerbit Jepang. Yang ada, kembali lagi kita yang harus membayar penalti dan materi komik itu bisa di-suspend lanjutannya karena dianggap tidak memenuhi syarat utk pengiriman lanjutannya.

Untuk kerjasama dengan toko buku, hal itu telah kita himbaukan ke mereka, karena toko buku adalah perusahaan yang berbeda dengan manajemen dan kebijakan yang berbeda. Dan karena sistem manajemen retail itu semi-desentralisasi, setiap lokasi bisa berbeda prakteknya tergantung kepalanya dan kebijakan beliau masing-masing. Ada yang tidak keberatan micro-managing, tapi ada juga yg memiliki kebijakan / prioritas yg berbeda.
Logged

Aquilamarine
are you talking to me?
LX - Senior
****

Reputation: 17
Offline Offline

Posts: 792

聖杯の騎士


Awards
« Reply #138 on: June 18, 2014, 08:46:09 am »

@steph : seriously, kamu kenapa? Shocked

Ok. dirunut :

1)Karena banyaknya alasan2 diatas (utk kelangsungan bisnis) berarti bisa ditebak, sistem pemilihan judul tidak akan banyak perubahan dr kondisi sekarang.
2)Dan untuk kebijakan kerjasama dengan toko buku, penerbit tidak berdaya, karena kebijakan penempatan dan screening pembeli tergantung msg2 TB


Berarti solusinya hanya : Sensor yang ketat. Termasuk bagi komik2 DEWASA (terbitan Elex ato Level) kenapa? Karena poin ke 2), kondisi di lapangan praktis judul "komik dewasa" tidak berfungsi sebagai batasan. Berarti semua komik di TB pada prakteknya bisa diakses segala usia tanpa pengawasan. Bahkan banyak komik2 di bbrp TB besar yg sudah dalam kondisi "terbuka".

Pembaca dewasa ingin tampilan dan konten manga tetap spt asli di Jepang? Ayolah, sistem dan prakteknya disini tidak mendukung untuk kesana...ingin mengorbankan kaum minor?

Pertanyaan : Apakah sensor komik dewasa juga sudah melakukan itu? (ga perlu kan sy kasih contoh yang pasti gampang didapatkan lah skrg.. Grin)

 Masuk akal nggak?  dunno Kalo ga setuju coba variabel mana yg bisa "dikorbankan"?

Atau jangan2 masih ada kendala lagi.... Shocked Shocked

PS : sensor ketat tidak bisa menghapuskan "ide" nyelenyeh dr bbrp judul spt yg mengandung ide incest, dsb.. dunno tgl mslh berhati2 sj..

« Last Edit: June 18, 2014, 09:03:20 am by Aquilamarine » Logged
stephanie istalri
I'm ...
LX - Member
***

Reputation: 9
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 562

Salah satu orang yang anti mainstream


Awards
« Reply #139 on: June 18, 2014, 02:25:51 pm »

@camo: tp mnrtku, lbh baik nerbitin judul basi aja. Buku yg mmg isinya bagus, sampai kapan pun pasti banyak peminatnya. (Tp pasti penerbit rugi tongue :p )atau, semua komik yg udh menunjukkan tanda2 komik dewasa, mskin LC aja :D gak bakal rugi, kan?

@aquilamarine: setuju ama sensor ketatnya! Mo liat adegan dewasa!? Ga ush setengah2 ngeliat di LC sekalian aja nonton BF, baca hentai. Blom puas? Praktek! Dan yg diatas itu, aku menawarkan jasa tongue :p

Di sini gak bisa di samakan dengan di Jepang! Tau gak, Indo belom bisa menerima semua itu. Kenapa? Ga ush tanya kenapa lah, org Indo Itu mudah terpengaruh. Sering liat anak2 bentak2 ke ortu? Itu pengaruh dari sinetron dll kan? Masyarakat kita itu sebenarya (kalo bisa dibilang) polos ...

Org yg dewasa g blh egois gt dong. Mereka mmg g pernah mikir generasi mendatang. Coba sekali2 pikirin.

Mmg Indo ancur gpp, lbh baik daripada ilang, soalnya kalo ancurkan bisa di perbaiki lagi, kalo ilang? Mo ada PD III? *Qoute from mas Ekos*
Tp, Indonesia butuh brp taun sih bwt di perbaiki? 1? 2? 3? No, no, no 10 juga ga cukup!!! Butuh setengah sampe satu abad kali yah?
Makanya pikirin itu baik2 jgn mementingkan diri sendiri.
Mmgny kalian mau, indonesia di sebut dengan negara yg penuh kekerasan? Penuh ponigrafi? Penuh dengan kasus asusila!?

Jgn sampe, pornografi di Indo jadi peringkat tertinggi di dunia ya? Ntar, nyesel kalo udh kaya korupsi, udh menjamur di mana2 gt. Kan susah balikin ky dlu lg. Klo mo buat indonesia menjadi lbh baik, kan dimulai dari generasi muda, kalian menjelek2an, siapa yang ngedidik koruptor2 di sana? Org Indo juga kan? Menanamkan jiwa koruptor pada mrk.

Nanti juga di tanya, siapa yg ngajarin mereka berbuat hal2 yg tdk terpuji?(membunuh, bla bla bla) kita juga kan?

Nah, org yg minta sensor diilangin, sensor jgn ketat2 amat, mmgny cm kalian yg baca? Anak2? Jangan salah, LC jg skrg hrus disensor ketat. Banyak anak2 bandel yg baca. Contonya, AoT. Anak2 banyak yg baca, bbrp nonton anime.

Trus, anak2 indo itu gak bisa ngerti kalo d ksh tau sekali. Nyeyel aja terus!

POKONYA, SENSOR KETAT ITU HARUS!!! KALO GA MAU DI SENSOR KETAT,LEBIH BAIK GO TO HELL, HEY! INDONESIA, CAN'T BE LIKE JAPAN OR AMERICA YOU KNOW!! DON'T ASK ME WHY!!! BECAUSE YOU CAN'T BE LIKE AMERICA OR JAPAN PEOPLE, RIGHT!????
*steph marah mode: on (can't turned off in this topic)
Logged

If you win, you need not to explain ...

If you lose you should not be there to explain!
daryatno
LX - Member
***

Reputation: 2
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 336

Back In Black


Awards
« Reply #140 on: June 21, 2014, 03:20:20 pm »

@camo: tp mnrtku, lbh baik nerbitin judul basi aja. Buku yg mmg isinya bagus, sampai kapan pun pasti banyak peminatnya. (Tp pasti penerbit rugi tongue :p )atau, semua komik yg udh menunjukkan tanda2 komik dewasa, mskin LC aja :D gak bakal rugi, kan?

@aquilamarine: setuju ama sensor ketatnya! Mo liat adegan dewasa!? Ga ush setengah2 ngeliat di LC sekalian aja nonton BF, baca hentai. Blom puas? Praktek! Dan yg diatas itu, aku menawarkan jasa tongue :p

Di sini gak bisa di samakan dengan di Jepang! Tau gak, Indo belom bisa menerima semua itu. Kenapa? Ga ush tanya kenapa lah, org Indo Itu mudah terpengaruh. Sering liat anak2 bentak2 ke ortu? Itu pengaruh dari sinetron dll kan? Masyarakat kita itu sebenarya (kalo bisa dibilang) polos ...

Org yg dewasa g blh egois gt dong. Mereka mmg g pernah mikir generasi mendatang. Coba sekali2 pikirin.

Mmg Indo ancur gpp, lbh baik daripada ilang, soalnya kalo ancurkan bisa di perbaiki lagi, kalo ilang? Mo ada PD III? *Qoute from mas Ekos*
Tp, Indonesia butuh brp taun sih bwt di perbaiki? 1? 2? 3? No, no, no 10 juga ga cukup!!! Butuh setengah sampe satu abad kali yah?
Makanya pikirin itu baik2 jgn mementingkan diri sendiri.
Mmgny kalian mau, indonesia di sebut dengan negara yg penuh kekerasan? Penuh ponigrafi? Penuh dengan kasus asusila!?

Jgn sampe, pornografi di Indo jadi peringkat tertinggi di dunia ya? Ntar, nyesel kalo udh kaya korupsi, udh menjamur di mana2 gt. Kan susah balikin ky dlu lg. Klo mo buat indonesia menjadi lbh baik, kan dimulai dari generasi muda, kalian menjelek2an, siapa yang ngedidik koruptor2 di sana? Org Indo juga kan? Menanamkan jiwa koruptor pada mrk.

Nanti juga di tanya, siapa yg ngajarin mereka berbuat hal2 yg tdk terpuji?(membunuh, bla bla bla) kita juga kan?

Nah, org yg minta sensor diilangin, sensor jgn ketat2 amat, mmgny cm kalian yg baca? Anak2? Jangan salah, LC jg skrg hrus disensor ketat. Banyak anak2 bandel yg baca. Contonya, AoT. Anak2 banyak yg baca, bbrp nonton anime.

Trus, anak2 indo itu gak bisa ngerti kalo d ksh tau sekali. Nyeyel aja terus!

POKONYA, SENSOR KETAT ITU HARUS!!! KALO GA MAU DI SENSOR KETAT,LEBIH BAIK GO TO HELL, HEY! INDONESIA, CAN'T BE LIKE JAPAN OR AMERICA YOU KNOW!! DON'T ASK ME WHY!!! BECAUSE YOU CAN'T BE LIKE AMERICA OR JAPAN PEOPLE, RIGHT!????
*steph marah mode: on (can't turned off in this topic)

hm hm hm....
setelah baca panjang lebar saya juga setuju...hehe,, banana
kenyataannya emang seperti itu sih,,
Logged

Pesan Ka Annie: jangan berani oot kalo gak mau ilang reput Cry
Pages: 1 ... 7 8 9 10 11 12 13 [14] 15 16 17 18 19 20 21 ... 24  All   Go Up
Print
Jump to: