Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length

 
Advanced search

606.168 Posts in 16.726 Topics- by 41.648 Members - Latest Member: ivuwirdi
Pages: 1 ... 15 16 17 18 19 20 21 [22] 23 24  All   Go Down
Print
Share this topic on FacebookShare this topic on GoogleShare this topic on TwitterShare this topic on Yahoo
Author Topic: [DISKUSI] Komik Dewasa/17+ di Indonesia  (Read 178424 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Dekar_K
LX - Junior
**

Reputation: 2
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 141

Baca Baca & Baca


Awards
« on: September 15, 2013, 05:19:10 pm »

anooo mas camo permisi saya mau tanya pendapat aja nih mungkin aga telat  

belakangan kan Elex Sama LC mulai berani terbitin Komik Genre Ecchi / 17+ kaya HOTD sama Kimi no iru machi apa tidak takut diprotes mikir ? apalagi diindonesia kan siapapun bebas membeli komik berarti ada kemungkinan juga anak dibawah 17 tahun beli komik sepertri ini

Note : saya bukannya munafik   ,, saya seneng komik seperti ini terbit  banana tapi sebagai calon orang tua saya juga was was jika terus seperti ini. setidaknya untuk kedepan mungkin untuk pembelian komik sepeti ini bisa dibatasi agar tidak ada anak dibawah umur membelinya

arigato
« Last Edit: April 26, 2015, 09:34:59 pm by REX » Logged
 
weisswald
LX - Senior
****

Reputation: 87
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 998


Fino Alla Fine


Awards
« Reply #211 on: March 11, 2018, 12:24:24 pm »

Menurut gw sih sila pertama Pancasila itu nggak mesti diinterpretasikan secara harfiah deh (kyk Amerika yg sekuler tapi motto negaranya "In God We Trust"). Sebenarnya sih sensor mesti dipertahankan, tapi jgn terlalu ekstrim kyk yg diterapkan di TV sekarang...
Like I said, sensor itu jgn terlalu ekstrim kyk yg diterapkan di TV sekarang...

Ikut komentar, sekular itu bukan berarti tidak beragama, tapi urusan agama tidak mempengaruhi pemerintahan.
Well yg kenyataanya di Indonesia tidak bisa dipisahkan keduanya.
(click to show/hide)

https://www.duniaku.net/2018/02/06/dragon-ball-super-tidak-ada-darah/
« Last Edit: March 11, 2018, 12:46:47 pm by weisswald » Logged

Truth becomes fiction when the fiction's true;
Real becomes not-real where the unreal's real.
nikitazero678
LX - Noob
*

Reputation: 2
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 59



Awards
« Reply #212 on: March 11, 2018, 12:56:50 pm »

Ikut komentar, sekular itu bukan berarti tidak beragama, tapi urusan agama tidak mempengaruhi pemerintahan.
Well yg kenyataanya di Indonesia tidak bisa dipisahkan keduanya.
Coba aja Indonesia bisa sekuler (tapi mendingan moderat dan jangan ekstrim kyk negara2 Eropa, minimal sama kyk Jepang), pasti kita gak perlu masalahkan soal agama yang bentrok dengan budaya dan negara...

Back to topic, kyknya Level gak nerbitin banyak manga mature baru lg... mungkin karena rata2 manga mature yang bagus ada adegan eksplisitnya?
« Last Edit: March 11, 2018, 12:58:36 pm by nikitazero678 » Logged
weisswald
LX - Senior
****

Reputation: 87
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 998


Fino Alla Fine


Awards
« Reply #213 on: March 11, 2018, 01:28:11 pm »

@nikita
AFAIK jepang termasuk negara yg paling keras dalam urusan sensor sesuai undang2 mereka. https://dankanemitsu.wordpress.com/2012/08/22/the-uneasy-ceasefire-of-2012-revised-tokyo-ordinances-current-status/
Logged

Truth becomes fiction when the fiction's true;
Real becomes not-real where the unreal's real.
Lee
LX - Member
***

Reputation: 77
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 736


Leadership is action, not position


WWW Awards
« Reply #214 on: March 12, 2018, 12:55:23 pm »

Like I said, sensor itu jgn terlalu ekstrim kyk yg diterapkan di TV sekarang...
Saya masih kurang paham... lalu kemajuan yang didapat apa yah? o_O"
Menurut saya, malah kemungkinan yang didapatkan adalah kemunduran... karena seperti pembahasan yang sudah (silakan scroll yah) dengan sensor seperti sekarang aja; anak bocah bisa dengan mudah mendapatkan akses ke komik/movie dewasa. Bukan karena mereka buta aksara loh yah biggrin
Kalau mau nerapin filter KTP atau kartu identitas apa pun... yakin bisa diterapkan di semua toko buku? Tolong jangan terpaku ke Gramedia/Gunung Agung/toko buku besar lainnya yah. Masih ada (katakanlah) toko Nikita yang berdiri di dekat sekolah/kampus/atau lokasi lain; bisakah (dan bersediakah) toko2 kecil yang namanya mungkin ga dikenal orang itu menerapkan filter KTP atau kartu identitas lain.
Itu masih di penerbitan legal loh... sedangkan di IG, FJB dll banyak dijual komik dewasa tanpa sensor terbitan ilegal :)
Logged

I may fall down but thatís not failure
Because I can just get up and run again
Because everything will make me stronger
gadisdesa
LX - Babes


Reputation: -3
Offline Offline

Posts: 29


Awards
« Reply #215 on: March 13, 2018, 10:30:57 pm »

 Wih.. tret ini bahasanya.. *gadisdesa memandang langit*. Lol..

@camolatte
Permisi, mau nanya, kenapa sih ga ada tret yg khusus bahas politik? (Atau dulu udah pernah ada tapi malah rusuh?)

Thx.
Logged
nikitazero678
LX - Noob
*

Reputation: 2
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 59



Awards
« Reply #216 on: March 13, 2018, 11:03:09 pm »

Saya masih kurang paham... lalu kemajuan yang didapat apa yah? o_O"
Menurut saya, malah kemungkinan yang didapatkan adalah kemunduran... karena seperti pembahasan yang sudah (silakan scroll yah) dengan sensor seperti sekarang aja; anak bocah bisa dengan mudah mendapatkan akses ke komik/movie dewasa. Bukan karena mereka buta aksara loh yah biggrin
Kalau mau nerapin filter KTP atau kartu identitas apa pun... yakin bisa diterapkan di semua toko buku? Tolong jangan terpaku ke Gramedia/Gunung Agung/toko buku besar lainnya yah. Masih ada (katakanlah) toko Nikita yang berdiri di dekat sekolah/kampus/atau lokasi lain; bisakah (dan bersediakah) toko2 kecil yang namanya mungkin ga dikenal orang itu menerapkan filter KTP atau kartu identitas lain.
Itu masih di penerbitan legal loh... sedangkan di IG, FJB dll banyak dijual komik dewasa tanpa sensor terbitan ilegal :)
Forget it, percuma deh gw ngomong gimanapun juga selama masyarakat kita masih konservatif, reaksioner dan religion-centric begini, saran progresif apapun yg gw kasih bakal dipertanyakan terus... (maaf kl kata2 gw bisa bikin org lain tersinggung)
« Last Edit: March 13, 2018, 11:07:23 pm by nikitazero678 » Logged
Lee
LX - Member
***

Reputation: 77
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 736


Leadership is action, not position


WWW Awards
« Reply #217 on: March 14, 2018, 08:04:41 am »

Forget it, percuma deh gw ngomong gimanapun juga selama masyarakat kita masih konservatif, reaksioner dan religion-centric begini, saran progresif apapun yg gw kasih bakal dipertanyakan terus... (maaf kl kata2 gw bisa bikin org lain tersinggung)
Hloh pak.. saya kan cuma nanya ^^;
Kalo pendapat nikita berbeda, monggo di-share jadi bisa mencerahkan yang lain. Menurut nikita kan dengan sensor yang lebih longgar akan membawa kemajuan, saya nanya karena ga paham... kemajuannya itu gimana? Kalau nikita main bilang konservatif lah, reaksioner lah, yah mana saya makin paham?
Kal nikita jelasin, gini loh... klo sensornya dilonggarin kemajuan buat masyarakat tuh begini begitu, ke depannya bisa begitu. Orang lain kan paham.
Lah klo kaya nikita, makin ga paham saya. Sorry to say, tapi ini model kaya bokap yang lebih suka bilang, "Udahlah, susah ngomong ama loe," tiap ditanya kenapa
Logged

I may fall down but thatís not failure
Because I can just get up and run again
Because everything will make me stronger
weisswald
LX - Senior
****

Reputation: 87
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 998


Fino Alla Fine


Awards
« Reply #218 on: March 14, 2018, 08:17:09 am »

Forget it, percuma deh gw ngomong gimanapun juga selama masyarakat kita masih konservatif, reaksioner dan religion-centric begini, saran progresif apapun yg gw kasih bakal dipertanyakan terus... (maaf kl kata2 gw bisa bikin org lain tersinggung)
Well, saya pribadi emang lebih suka sensor yg longgar. Tapi saya mo tanya apa anda baca fakta yang saya berikan bahwa di Jepang sendiri saat ini sensornya pun lebih ketat terutama yang menargetkan anak2, remaja yang dianggap belum dewasa. Kenyataan di Indonesia emang seperti ini, tapi paling ga masih lebih baik sensornya daripada negara tetangga seperti Singapur.
http://evacomics.blogspot.co.id/2015/08/censorship-of-nudity-in-singapore-and.html?m=1
« Last Edit: March 14, 2018, 08:38:44 am by weisswald » Logged

Truth becomes fiction when the fiction's true;
Real becomes not-real where the unreal's real.
nikitazero678
LX - Noob
*

Reputation: 2
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 59



Awards
« Reply #219 on: March 14, 2018, 10:39:30 am »

Sebenarnya gw punya saran agar sistem rating bisa efektif, yaitu dengan adanya peraturan yang mewajibkan orang tua/wali untuk memperhatikan rating yang ada dan memberi bimbingan pada anak-anak/remaja jika diperlukan, dan yang melanggar peraturan ini, sengaja atau tidak, akan mendapat hukuman. Kedengaran memaksa sih, tapi cuman ini cara yang efektif.

Like I said, selama masyarakat kita masih konservatif, reaksioner dan religion-centric begini, jangan harap komik dewasa yg lebih berat dan nendang (kyk Berserk dan Velvet Kiss) bisa terbit di Indonesia...

Hloh pak.. saya kan cuma nanya ^^;
Kalo pendapat nikita berbeda, monggo di-share jadi bisa mencerahkan yang lain. Menurut nikita kan dengan sensor yang lebih longgar akan membawa kemajuan, saya nanya karena ga paham... kemajuannya itu gimana? Kalau nikita main bilang konservatif lah, reaksioner lah, yah mana saya makin paham?
Kal nikita jelasin, gini loh... klo sensornya dilonggarin kemajuan buat masyarakat tuh begini begitu, ke depannya bisa begitu. Orang lain kan paham.
Lah klo kaya nikita, makin ga paham saya. Sorry to say, tapi ini model kaya bokap yang lebih suka bilang, "Udahlah, susah ngomong ama loe," tiap ditanya kenapa
Jadi begini, menurut gw, manga itu kan bentuk seni, dan seni itu adalah l'art pour l'art, yang berarti seni itu bernilai intrinsik dan tidak boleh dikaitkan dengan moral dan agama. Lagian udah jelas kalau manga untuk dewasa itu memang diperuntukkan untuk dewasa, jadi seharusnya orang tua itu harus lebih mengawasi anak dalam apa yang mereka baca dan lihat, bukannya menyalahkan karya seni.

Kalau karya seni seperti itu disensor karena alasan simpel, yaitu untuk melindungi anak-anak dari hal yang tidak pantas, menurut gw sih rasanya kurang adil, karena itu sudah melanggar kebebasan berekspresi meskipun tujuannya demi melindungi anak-anak. Berarti, dalam hal ini, seharusnya komik dewasa tidak harus dibatasi, tapi minimal diatur sehingga peruntukkannya sudah tepat. Komik anak-anak untuk anak-anak, komik dewasa untuk dewasa; sistem rating itu malah lebih cocok daripada sensor. Di masyarakat Indonesia yang apatis seperti ini, menurut gw sih hal ini mesti dipaksa seperti yang dah gw saranin di atas, soalnya bangsa Indonesia ini hanya mau menurut kalau hidungnya dicocok.

Kata-kata gw yang kemarin itu karena lagi ada bad mood aja, jadi 僕は本当にすみませんです。
« Last Edit: March 14, 2018, 02:27:09 pm by nikitazero678 » Logged
Lee
LX - Member
***

Reputation: 77
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 736


Leadership is action, not position


WWW Awards
« Reply #220 on: March 15, 2018, 05:59:42 pm »

Sebenarnya gw punya saran agar sistem rating bisa efektif, yaitu dengan adanya peraturan yang mewajibkan orang tua/wali untuk memperhatikan rating yang ada dan memberi bimbingan pada anak-anak/remaja jika diperlukan, dan yang melanggar peraturan ini, sengaja atau tidak, akan mendapat hukuman. Kedengaran memaksa sih, tapi cuman ini cara yang efektif.
Saran yang menarik tapi mungkin kurang efektif di kondisi saat ini. Contoh aja yah, aturan mobil ganjil-genap. Toh udah lewat jam 7 pagi sering kan kalo mobil2 berplat genap berkeliaran di tanggal ganjil... kebut aja di sisi kanan, kalo apes tinggal salam tempel. Dan seringan lolos daripada ditindak. Mungkin kesannya saya pesimis tapi rasanya sekarang sistem ini cuma bisa jadi isapan jempol, mengutip dari statement nikita sendiri di bawah bahwa ada segelintir orang dewasa yang apatis, buat mereka mungkin: peduli setan sama beginian, gw sumpel duit juga diem  dunno
Mungkin saran ini baru jalan kalau mayoritas orang sudah disiplin.

Lagian udah jelas kalau manga untuk dewasa itu memang diperuntukkan untuk dewasa, jadi seharusnya orang tua itu harus lebih mengawasi anak dalam apa yang mereka baca dan lihat, bukannya menyalahkan karya seni.
Jujur yah, mungkin saya belom waktunya komen secara kawin aja belom apalagi jadi ortu. Tapi ngeliat Abang sama istrinya, saya taulah kira2 gimana ribetnya jadi ortu jaman sekarang dan saya bukannya mau nyari-nyari alesan. Pertama ga setiap ortu punya uang dan punya waktu, maksud saya bisa aja ortunya ngantor semua dan itu cuma pas buat kebutuhan sehari-hari. Kedua ortu ga bisa nempel 24 jam sama anaknya; ada masanya belajar kelompoklah, hang out lah, dll. Ketiga tapi bukan yang terakhir: kita ga bisa seenaknya mendidik anak orang lain (misal gw dibebasin bonyok liat yang porno tuh, bonyok nikita tentunya ga ada hak ngelarang2 atau ngajarin).
Dan di dalem otak saya yang ga seberapa gede ini, saya yakin ga ada ortu yang pengen anaknya rusak (entah karena narkoba, seks bebas, or anything lah). TS sendiri (Mas Dekar) ga nyalahin karya seninya loh... tapi sebagai calon ortu, dia was-was kalau anak-anak bisa bebas mengonsumsi komik 17+

Kalau karya seni seperti itu disensor karena alasan simpel, yaitu untuk melindungi anak-anak dari hal yang tidak pantas, menurut gw sih rasanya kurang adil, karena itu sudah melanggar kebebasan berekspresi meskipun tujuannya demi melindungi anak-anak.
Nah.. balik lagi ke awal. Pertanyaannya kan kira-kira, gimana sich biar yang jadi orang dewasa (terutama ortu) bisa senang tanpa rasa was-was; bisa nikmatin komik 17++ atau mungkin 21++ tanpa khawatir si anak/ponakan/cucu ikutan nyicip ga belum seharusnya dicicip? Minimal kalo ga sengaja nyicip ga bakal kelepek2 dan mulutnya berbusa. Salah satunya yah sensor, jadi kalau pas mereka nyicip yah masih lumayan amanlah tapi imbasnya kenikmatan si orang dewasa berkurang.
Kalo mau full nikmat bisa ga yah? Entahlah... dengan asumsi yang jualan komik cuma yang legal (lupakan dulu yang ilegal), beberapa orang (termasuk saya) nganjurin mainin di harga kalau mau sensor dilonggarin. Fair enough menurut saya sich. Misal harganya jadi katakanlah 75K sebiji.
Eit... sebelum tereak2 bilang ga adil buat anak SMA: kita udah dewasa bro... bisa milihlah dengan uang saku yang didapet mana yang diprioritasin; kalau mau beli komik 17++ atau 21++ yah korbanin keperluan lain; kalo ga mau korbanin yang lain yah ga usah beli. Tunggu pas udah kerja aja.
Terus lu kata orang kerja ga ada keperluan laen, bisa ngambur2in duit 75K buat komik sebiji? Lha balik lagi lah bro, prioritas utamanya tuh apa; makan, bayar kos, dll (sebutin aja yang lain) apa komik? Gampang kan.

Sekali lagi, saya ga bilang saran nikita mengada-ada yah; tapi kayanya masih belum bisa diaplikasiin buat kondisi sekarang. Sensor sendiri cuma salah satu fitur bantuan dari penerbit legal; silakan lirik penerbit ilegal.. saya jamin nikita bisa puas liat adegan dewasa (mulai dari seks sampai yang gore) tanpa sensor (tuh di IG saya sering liat lapak jualan komik dewasa ilegal versi seks macam Virgin na Kankei, komik2 Shinju Mayu, dll dikasih photo isi komiknya) atau mungkin lirik ms. Once again... no offense. Namanya juga diskusi kan pak... saling berbagi opini ^^v
Logged

I may fall down but thatís not failure
Because I can just get up and run again
Because everything will make me stronger
Pages: 1 ... 15 16 17 18 19 20 21 [22] 23 24  All   Go Up
Print
Jump to: